Rabu, 16 Oktober 2013

Bacaan Serius : Beli satu harus dua

beni badaruzaman

Punya dua orang Sensing di rumah ternyata harus ekstra budget juga ternyata. Istri dan Anakku Dewi bermesin kecerdasan sama yaitu sensing extrovert. Orangnya suka sekali mencontek atau meniru sesuatu yang menyenangkan panca indranya.
Diawal-awal saya menerapkan STIFIn untuk pola asuh keluarga, saya cukup kewalahan karena budget untuk dua orang sensing membengkak. Contoh kecil saja dalam hal urusan kerudung. Hampir setiap bulan selalu ada jatah kerudung untuk berdua. Memang tidak seberapa harganya, tapi itu loh kalo menurut saya mau berapa sih kerudung yang harus dipake? Tapi kalo inget posisi saya sebagai Pendukung utama orang sensing, hal ini harus saya lakukan agar mereka termotivasi untuk melakukan sesuatu.
“Pak kemarin Dewi bilang sama ibu, temennya punya model kerudung baru warnanya ungu, kata dewi , cocok dengan sendal mainnya”
“Nah bukannya sudah dibeliin minggu kemarin yang warna pink, itupun alasannya sama cocok dengan bajunya”
“Kasian kan Dewinya pak, ingat loh orang sensing itu kalo tampilannya ngga Match, agak kurang pede lho pak!, kasian kan anak kita pak”
Lagi-lagi orang feeling luluh dengan rayuan, apalagi kalo demi anak.
“Ya udah beliin aja, ajak Dewinya sama ibu! Suruh pilih sendiri!, Ingat temenin yah!, sebagai ibu yang bermesin kecerdasan sama harus selalu terlibat dalam semua kegiatan anak” itulah kata-kata sakti sebagai seorang STIFIn Consultant.
Dikeluarkanlah uang seharga kerudung tersebut, dan istri pun tidak menyambut uang itu dengan segera.
“Kalo gitu bapak aja yah yang nemenin Dewi!, ibu mau ke tempat kerja dulu ngontrol karyawan”
“Loh gimana sih? Kan harus ibu yang mendampingi!”
“Ngga mau!” sambil siap-siap meluncur ke tempat kerja. Padahal saya pun harus segera meluncur ke sebuah tempat Pelatihan untuk memberikan Training.
“Terus gimana ….? ”
“Masak cuma Dewi saja yang dibeliin? Ibu juga kan sama kaya Dewi!, Sensing Extrovert juga” sambil megangin kantong belakang celana saya.
Akhirnya budgetnya pun double saya keluarkan, hehe … kena rayuan duo sensing lagi.

Jumat, 20 September 2013

Kenapa harus mengenal diri?

beni badaruzaman
Man arofa nafsahu faqod arofa robbah. Siapa yg mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhanmya. Hadits atau kata bijak seorang sufi itu adalah menyarankan kita utk terlebih mengenal diri.

Konsep mengenal diri disini berarti mengenal baik apa yg menjadi kekuatan kita, kehebatan kita. Sekaligus satu paket dgn mengenal kelemahannya sebagai bukti syukur akan pemberianNya, Tentu kita sadar bahwa semua itu merupakan sifat Rahman dan Rahim nya Allah terhadap hambanya.

Kebanyakan dari kita lebih banyak yang hanya mengetahui setengah dari dirinya. Yaitu hanya mengenal kelemahannya saja. Kita terlalu banyak mengeluhkan kelemahan-kelemahan yang tampak dari dalam diri kita. Kita terlalu sibuk mengurusi kehebatan orang lain dimana disitulah yang tidak ada dalam diri kita.
Cara yang lazim kita lakukan adalah menangasah kelemahan kita sedemkian kerasnya, bahkan sampai menginvestasikan sejumlah dana untuk membiayai kelemahan kita agar bisa mengejar ketertinggalan.

Hasilnya? Memang ada perubahan, tetapi sehebat apapun kita bergerak di kelemahan tersebut pasti masih jauh tertinggal.

Ibaratnya, jika skor kota di bidang yang menjadi kelemahan tersebut 5 lalu kita investasikan sejumlah dana untuk meng-upgrade keahliannya maka tidak akan pernah mencapai skor 10. Mengapa? Karena dibutuhkan kerja ekstra yang luar biasa. Lelah, ya karena itu bukan merupakan jalan yang sesuai dengan kita.
Coba sekarang kita bergerak dengan kelebihan yang kita miliki. Sebut saja skornya 7, maka kita akan mengerahkan segala daya upaya dengan hati yang genbira mengoptimalkan kelebihan kita maka skor akan mencapai raihan tertinggi bahkan lebih. Ya, karena seluruh tubuh kita akan bersinergi untuk menvapainya, tidak ada penolakan.
Jangan sampai kita sibuk dengan kelemahan saja sehingga kita lupa mengoptimalkan kehebatan yang kita miliki.

Kita fokus dengan kelebihan kita agar kita berada pada jalur yang benar sebagai bukti syukur akan kelebihan yang kita miliki, dan hadapi dengan sabar apa yang menjadi kelemahan kita. Suatu saat pada saat butuh di tingkatkan maka kita baru tambah keahlian tersebut. Saya menyebutnya dengan menambah keahlian, bukan membiayai kelemahan.

Yuk kita kenal diri kita! Ada tools yg SIMPLE ga pale ribet, STIFIn finger print tes. AKURAT karena secara genetis ditesnya. APLIKATIF bisa digunakan untuk berbagai bidang.

Lihat di contact, pilih promotor terdekat dengan dengan tempat Anda.
Yes! Sekarang saatnya untuk berubah.

Selasa, 27 Agustus 2013

Preview buku "Ini Cara gue Banget – Anakku senang, Aku Pun Nyaman"

beni badaruzaman



Artikel ini adalah preview tentang buku yang akan di launching di bulan Desember 2013. Pengennya sih launching tanggal 11-12-13, jika tidak aral melintang, Insya Allah.
Buku ini adalah suatu dedikasi dari kami agar keluarga Indonesia bisa memaksimalkan kekuatan dari masing-masing pribadinya. Bisa orang tua, Anak, Pelajar, Mahasiswa atau siapapun yang mempunya dedikasi yang tinggi terhadap keluarga dan juga seseorang yang ingin bertumbuh menuju ke tingkat martabat yang lebih tinggi lagi.
Sehingga kita bisa lebih mudah dalam cara bersyukur atas karunia dari Allah berupa Kekuatan yang diberikan. Tugas kita ternya hanya memaksimalkan dengan meraih sukses setinggi-tingginya dan mulia atas karunia tersebut dengan memberi manfaat seluas-luasnya kepada semua yang membutuhkan. 
Begitu kita lahir kedunia, orang tua kita langsung berjanji seiring pertama kali manyambut kita lahir. “Saya akan lakukan apapun yang terbaik untuk kesuksesan dan kebahagiaan kamu nak”
Apakah cukup sampai disitu saja? Memang setiap babak dan episode terus dilewati oleh orang tua kita. Dan mungkin banyak sekali yang tidak sesuai dengan skenario.
Tangisan bayi di tengah malam merengek sekadar hanya popoknya basah, atau rasa haus ingin susu. Disaat mana sebagian orang tertidur dengan nyenyak, kita harus menenangkan jabang bayi untuk kembali tertidur lelap.
Belum lagi teriakan  dan jeritan tanpa henti yang akan kita jumpai seiring pertumbuhannya menjadi balita.  Segala sesuatunya berubah seolah-olah semua yang kita lakukan tidak ada artinya.
Aktifitas kita tidak bisa sebebas lagi seperti dulu, kita selalu teringat dengan jadwal memberi makan terhadap anak kita. Belum lagi dinding yang penuh dengan coretan, rumah yang berantakan dengan mainan menyambut kita pulang kerumah.
Sambil terduduk merenung, kita bisa membayangkan apa jadinya anak kita nanti. Bagaimana masa depannya? Bagaimana cara mendidiknya? Bagaimana saya harus membimbingnya di tengah perubahan dunia yang begitu cepat? Sekolah apakah yang tepat buat anak kita? Sudah cukupkan bimbingan perilaku dan budi pekerti untuk anak kita? Bagaimana spriritualitasnya nanti? Sudah cukupkan kita membimbingnya ke tingkat spiritualitas yang tinggi sehingga dia tau cara bersyukur terhadap RaabNya? Saya tidak ingin anaku hanya mengejar dunia saja, tetapi juga harus membawa bekal nanti untuk kehidupan yang sesungguhnya di akhirat nanti.
Setiap kita sebagai orang tua tentu ingin mengantarkan anak-anaknya  ke dalam kesuksesan hidup. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya gagal atau sengsara. Itu adalah fitrah naluriah sebagai orang tua terhadap anaknya.
Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat didalam fikiran kita. Semua itu bermuara pada satu tujuan yaitu “Ingin Mengantarkan Anak Menuju Kesuksesannya”.
Penawaran-penawaran tentang konsep pembelajaran buat anak, semuanya laris manis dan satu alasan bagi orang tua yaitu “Demi Anak”!.  Lalu? Kita sebagai orang tua tentu banyak sekali yang terpengaruh dengan iklan-iklan yang berkaitan dengan pendidikan anak. Bukan itu saja, banyak produk-produk yang ditawarkan berkaitan dengan perkembangan anak. Akhirnya semua prooduk dan jasa kita coba, siapa tahu ada yg cocok dengan anak kita. Bisa ditebak, hasilnya adalah tebak-tebakan. Tebak saja oleh kita. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk biaya coba-coba. Seperti kata iklan “Buat anak ko coba-coba” he…he…
Yes, ini adalah persoalan kita sebagai orang tua, pertanyaan besarnya adalah adakah cara yang membuat kita sebagai orang tua merasa nyaman mendidik anak, dan anak pun tetap senang dengan caranya? Hmmm, pertanyaan ideal. Tetapi ada solusi yang saya telah praktekan dan sebarkan. Alhamdulillah, Aplikatif sekali. Saya dan Istri Enjoy, Anakpun Enjoy dan berprestasi. Mau tau?
Di buku ini akan dikupas bagaimana kita berkomunikasi dengan anak yang sesuai dengan setiap mesin kecerdasannya.  Setiap anak mempunyai sifat unik tersendiri, yang tidak bisa disamakan dengan satu lainnya. 
Keunikan tersebut harus terlebih dahulu ditemukan, apa yang menjadi kekuatan kita dan anak kita itu, atau kami menyebutnya dengan Mesin Kecerdasan. Setelah diketahui, baru kita bisa mengarahkannya sesuai dengan Mesin Kecerdasannya.
Karena Tuhan telah mengkaruniakan kepada kita satu Paket Kekuatan plus Kelemahan dalam satu paket yang tidak bisa ditawar-tawar lagi begitu kita lahir kedunia. Ini Hadiah Dari Allah SWT, berarti yang namanya hadiah itu harus kita pakai dan maksimalkan sebagai tanda dan bukti syukur kita pada Sang Pemberi Hadiah. Sebagai bukti syukur, maka kita wajib mengoptimalkan kekuatan kitan, bukannya mempersoalkan kelemahan kita!. Biarkan kelemahan terdidik secara alami, karena begitu kekuatan dimaksimalkan, maka otomatis kelemahan akan tertutupi, Percaya kan? Harus!.
Temukan Kekuatan itu ! Kenali Mesin Kecerdasan Anda dan Anak Anda!, Karena itu adalah pintu sukses cara bersyukur dengan ilmu yang benar. Seperti Kata Sang Nabi SAW “ Man arofa nafsahu faqod arrofa robbah” Siapa yang mengenal dirinya maka mengenal Tuhannya.
Berarti Kalo kita mau bersyukur dengan ilmu yang benar, ya Anda harus tau dulu Siapa diri anda, maka setelah mengetahui diri Anda Pasti tau cara bersyukur!, karena segala sesuatunya itu adalah datangnya dari Allah SWT. Percaya kan? Harus!
Setelah diketahui apa yang menjadi Mesin Kecerdasan (MK) kita, maka kami akan bimbing Anda dan Buah Hati Anda menuju jalur karpet merahnya sesuai masing-masing MK-nya. Pada buku ini Saya akan mengupas tuntas Aplikasi yang berhubungan dengan keluarga dan cara belajar Anak. Mau tau? Lanjut!
Di buku ini akan ada dua persoalan keluarga yang akan dibahas, pada bagian pertama adalah internal keluarga, yaitu tentang pola asuh anak dan komunikasi antar anggota kerluarga. Akan dibahas bagaimana kita menentukan soerang yang memiliki dedikasi yang paling tinggi dalam urusan pola asuh anak, selanjutnya kita sebut dengan parent leader. Parent leader ini berperan penting dalam menentukan aksi strategis tentang keputusan masalah pola asuh anak. Selanjutnya akan juga dibahas pembentukan atmosfir keluarga yang kita tentukan berdasarka mesin kecerdasan parent leader.
Dengan adanya seorang pemimpin dalam pola asuh anak, maka si anak akan menjadi lebih terarah karena komando jelas hanya ada satu. Tidak ada lagi dualisme yang membuat anak menjadi bingung dan tidak konsisten. Parent leader akan enjoy karena kekhasan dirinya tidak akan hilang, jati diri sebagai orang tua dengan bakat alaminya tidak akan hilang. Sehingga orang tua akan merasa dirinya menjalankan peran sesuai dengan kemistri bawaannya.
Anak pun akan enjoy, karena diperlakukan dengan tata cara dan proses kerja berdasarkan mesin kecerdasannya atau bakat alaminya. Tidak ada proses yang bertentangan dengan sistem operasi otaknya. Kenapa? Karena kita tau setiap anak mempunyai kekhasan tersendiri dan itu tidak diturunkan oleh orang tuanya.
Komunikasi akan tercipta dengan harmonis dengan selaras antara anggota keluarga dalam pola asuh yang sesuai dengan masing-masing kecerdasan. Nah di buku ini semua itu akan dibahas tuntas.
Aplikasi di keluarga yang paling mendesak adalah dengan kegiatan Anak-anak kita yang berhubungan dengan prestasi akademik di sekolah. Kegiatan akademik tentunya yang berhubungan dengan belajar.
Kata belajar sangat menyeramkan sekali bagi sebagian anak-anak kita. Buku ini akan membahas mengapa begitu dan bagaimana cara mengatasinya, sehingga belajar menjadi proses yang menyedangkan. Sehingga prestasi akademik akan terdongkrak.
Tahap-tahap proses belajarpun ternyata butuh warming-up (pemanasan), kita akan kupas tuntas cara pemanasan dari masing-masing Mesin Kecerdasan. Selanjutnya cara belajarnya pun pasti berbeda-beda, juga akan diuraikan sehingga anak akan menemukan kenyamanan dalam belajar.
Anda akan dibimbing menemukan cara yang tepat dan nyaman buat anak untuk terus ‘ON’ belajar. Ibarat mesin yang terus dipergunakan, perlu juga di set up ulang atau kalibrasi. Ternyata setiap anak pun perlu kalibrasi agar belajarnya selalu ‘ON’.
Pada akhir buku ini dibahas apa saja yang menjadi sumber kegagalan dalam hasil belajar, atau kita sebut sebagai penyakit belajar, dan lagi-lagi setiap Mesin Kecerdasan mempunyai penyakit belajarnya masing-masing. Dan tentunya buku ini akan memberikan solusi yang pas, bagaimana mengatasi penyakit belajar tersebut. Pokoknya Ikutin deh, Terbukti!
Akhir dari proses belajar itu tentunya perlu evaluasi dan re-evaluasi agar hasil dari pembelajaran berhasil secara maksimal. Semua ini tentu bukan hanya tanggung jawab anak saja. Tetapi juga tugas dari segitiga penggemblengan prestasi anak. Yaitu Orang Tua – Anak – Sekolah , ya kita perlu berkolaborasi untuk program penggemblengan anak, tidak hanya menjadi tugas sekolah, tetapi juga kita sebagai orang tua. Yes… ini cara gue banget!
Disarankan pada saat baca buku ini, pastikan seluruh anggota keluarga ada, dan bentuk kelompok kecil untuk diskusi antar semua anggota keluarga. Kebayang, keluarga kita makin harmonis, makin terjalin komunikasi yang hangat dan nyaman. Jangan heran jika Anda setelah baca buku ini dan di praktekan, pasti ketagihan ingin ngasih tau kerabat dekat, tetangga, juga kolega lainnya. Ya saya yakin itu, udah jangan terlalu banyak dipikirin, coba saja lalu praktekan. Masih mau coba cara lain? Duh berapa biaya kebodohan yang kita keluarkan hanya untuk coba-coba. Siap? Yes pasti siap, saya dan komunitas pun siap memberikan yang terbaik buat Anda dimanapun anada berada.
Yuk Orang Tua yang berbahagia, Bismillah, Ya Allah, Izinkan kami berproses untuk bersyukur kepadamu dengan cara-cara yang gue banget. Sebagai bukti syukur kami atas karuniaMu yang telah memberikan amanah kepada kami berupa anak-anak. Izinkan kami juga berproses untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kami menuju kesuksesan dengan potensi yang diberikan Mu kepada anak-anak kami, agar mereka pun tau cara bersyukur. Amiin ya rabbal ‘alamiin.
"Khairunnas anfa’uhum linnas", yang artinya, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
Nantikan bukunya, Insya Allah Launching pada 11-12-13, mohon do'a dan dukungannya.
Dipersembahkan oleh Beni Badaruzaman (Writer "Ini Cara Gue Banget | Anakku Senang, Aku Pun Nyaman")
Ingin ngbrol lebih lanjut? follow : @beni_be 

Kamis, 01 Agustus 2013

BERUBAH Sebagai Sebuah Kebutuhan

STIFIn Banten
Dunia berubah, lingkungan berubah, iklim perusahaan berubah, bahkan diri kita pun berubah, semua terjadi dan begitu cepat. Dinosaurus seekor hewan yang kita tahu adalah contoh hewan yang tidak bisa mengikuti perubahan yang ada disekelilingnya. Jika kita tidak berubah, mungkin nantinya kita juga berada di musium berdampingan dengan fosil dinosaurus. Hehe..

Satu-satunya cara yang perlu kita lakukan jika ingin kehidupan yang lebih baik maka kita perlu BERUBAH, atau dengan kata lain Move ON. Move ON atau bergerak, berpindah dari sebuah situasi ke situasi lainnya. Tentu saja perpindahan tersebut ke arah yang lebih tinggi, lebih nyaman, lebih berkelas, lebih bermartabat alias lebih baik.

Apakah saat ini anda sedang Move ON (Bertumbuh)? Tentunya kita pernah mengalami saat gigi graham bungsu kita tumbuh yaitu saat usia 18-20 tahun? Masih ingat bagaimana rasanya? Badan demam, makan nggak enak, gusi sakit dan perasaan-perasaan tidak nyaman lainnya. Apakah hal tersebut adalah sesuatu yang negatif? Tentu saja bukan, karena diri kita sedang bertransformasi yaitu gigi graham bungsu kita telah lahir.

Pertumbuhan berbanding lurus dengan ketidak nyamanan, seperti kata pepatah good life is the enemy of great life atau kehidupan yang nyaman adalah musuh dari kehidupan yang lebih baik. Jadi jika anda saat ini sudah nyaman dengan kehidupan anda, mungkin anda nyaman dengan pekerjaan anda, anda mungkin nyaman dengan gaji dan jabatan anda dikantor mungkin itu sebuah tanda jika saat ini anda tidak sedang Move ON atau tidak bertumbuh.

Pertanyaannya, apakah menikmati kehidupan yang nyaman adalah sebuah larangan? Tentu saja tidak, adakalanya kita perlu menikmati hasil daripada kerja keras kita selama ini, namun dunia sekeliling kita mengalami perubahan, semua terjadi begitu saja even kita tidak berubah pun dunia akan terus berubah pilihannya adalah berubah atau punah? Senada dengan apa yang disampaikan oleh salah satu manusia jenius abad 21-Albert Einstein Kehidupan layaknya kita mengayuh sepeda. Untuk membuatnya tetap seimbang, kita harus selalu Bergerak.

Abraham Lincoln pernah berkata, banyak orang yang telah menjadi Zombie (mayat hidup) ketika berusia 25 tahun keatas, Artinya, banyak mereka yang berhenti bermimpi (bertumbuh), secara fisik mereka masih sehat, hidup dengan nyaman tetapi sebenarnya mereka seperti mayat hidup cenderung menjalani kehidupan dengan prinsip Monkey See, Monkey Do alias menjalani rutinitas tanpa perubahan yang berarti dalam perjalanan hidup mereka, tentunya orang itu bukanlah anda yang sedang membaca tulisan ini. Belajar dari kake @JamilAzzaini Karena ciri hidup itu berubah dan bertumbuh maka siapa pun kita, apa pun latar belakang anda, apakah anda seorang mahasiswa, karyawan, pengusaha, ibu rumah tangga bahkan yang belum bekerja sekalipun anda perlu Move ON

Langkah-Langkah Seperti Apa Yang Perlu Kita Lakukan Untuk Move ON?

Pertama, mendeteksi diri dimana kita, mau kemana kita, apa yang ingin diraih? Sebagai contoh, anda sebagai pendatang dari luar kota yang ingin berkunjung ke Rumah STIFIn Banten lalu bertanya kepada kami, “pak/bu, saya menuju tempat bapak, saya lewat jalan mana ya?” kira-kira apa yang akan kami tanyakan? Anda benar, terlebih dahulu kami akan bertanya, “bapak/ibu dari arah mana?” Karena posisi kita saat ini adalah sebuah ukuran bagi kami untuk memandu anda menuju lokasi yang anda ingin hampiri. Senada yang disampaikan oleh salah satu sahabat kami di Rumah STIFIn Banten mas Adam Dani Fauzan #1 Magician in Banten, jika kita tidak tahu harus berlayar kemana, maka semua arah mata angin adalah benar.

Kedua, set up ulang diri kita mengikuti perubahan dari luar dengan cara perlahan-lahan mengubah kebiasaan dan segala sesuatu yang diperlukan. Berubah tidak asal berubah, anda harus bertumbuh kearah yang lebih baik. Dalam buku ON karya Insipirator SuksesMulia bpk. Jamil Azzaini menuturkan ada 4 (empat) hal yang perlu kita lakukan dalam rangka berubah dan bertumbuh atau lebih populer dengan sebutan Move On dengan empat ON, apa saja?

Di dalam hidup, anda punya banyak keinginan. Diantara banyak keinginan tersebut ada yang paling anda inginkan untuk anda wujudkan, itulah Visi-ON. Semakin jelas vision anda akan semakin baik, Clarity is Power, kejelasan adalah sember kekuatan. Temukanlah Visi-ON hidup anda, maka ia akan menjadi arahan setiap tindakan dan keputusan anda.

Vision saja belum cukup tanpa sebuah Acti-ON. Gunakan skala prioritas agar actiON yang anda lakukan efektif dan efisien. Action yang anda lakukan tentunya harus terukur dalam rangka mewujudkan Vision anda. Ingat! Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.

Action yang cerdas dalam rangka mewujudkan Vision adalah action yang sesuai dengan Passi-ON. Sesuatu yang membuat anda bergairah, bukan karena uangnya melaikan karena kecintaan terhadap yang anda lakukan, bahkan anda rela melakukannya meskipun anda tidak dibayar, temukan sejatinya passi-ON anda. Bergeraklah sesuai passion. http://www.stifinbanten.com/2012/06/live-your-life-with-passion.html

Dan sebagai mahluk sosial, Move ON yang kita lakukan akan bertahan lama dan mengalami percepatan bila kita melakukan Collaborati-ON dengan berbagai komponen yang ada. Atau dalam ilmu kimia, anda perlu katalisator untuk mempercepat reaksi yang anda inginkan. Collaboration terbaik diawali dari rumah bersama pasangan anda, keluarga anda. Setelah itu, anda perlu menetapkan siapa saja partner sukses anda. Bergurulah kepada orang yang bisa membantu anda mencapai vision anda. Berguru pula kepada orang yang ahli untuk mengasah passion anda. Sesaat lagi kita akan sama-sama belajar bagaimana caranya Move ON (bertumbuh) dengan metode yang simple dan aplikatif di Training ON Plus mau? Lets Move ON.

Sumber: Workbook Ekslusive Training ON Plus w/ @StifinBanten

Rabu, 17 Juli 2013

RomadhON, Saatnya Move ON

STIFIn Banten
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan, kelancaran dan kesempatan untuk bisa berjumpa dengan bulan suci penuh berkah ini. Sholawat dan salam tercurah kepada baginda Rasulullah SAW dan para sahabatnya sampai kepada kita semuanya. Semoga kita semua dimampukan olehNya untuk menyelesaikan ramadhan tahun ini hingga tuntas dan kembali menjadi pribadi yang fitri (suci), Aammiin.

Gimana kabar puasa ramadhan yang undah seminggu berjalan? semoga lancar, sehat dan diterima puasa kita, Aammiin. Hmm.. by the way sahabat hebat semuanya “barangsiapa yang dengan hati menyambut bulan ramadhan maka haram jasadnya disentuh api neraka” semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dengan suka cita menyambut bulan ramadhan ini. Kapan lagi kita bisa “memaksa” diri kita untuk lebih beriman dan bertakwa selain bulan ramadhan? Betul atau benar? 

Saya pernah mendengar sebuah nasehat bahwa Tuhan (Allah SWT) tidak melihat hasil akhir namun Dia menilai proses yang kita lakukan hingga mencapai hasil akhir hal ini senada dengan pepatah “Success is journey not a destination”, sukses adalah sebuah proses bukanlah tujuan. Menurut saya ini sangat adil kenapa? Karena bicara tentang sukses atau peningkatan 4-TA (harTA, tahTA, kaTA dan cinTA) prosesnya harus diiringi dengan kemuliaan, rubah paradigma berfikir bahwa sukses aja engga cukup. Harta banyak pastika sedekahnya juga banyak, jabatan tinggi pastikan kebijakannya mensejahterakan masyarakat, ilmu (kaTA) tinggi digunakan untuk memakmurkan SDM dan SDA, dan pengaruh yang luas harus diiringi dengan membantu banyak orang menemukan kehidupan yang lebih damai.

Bicara menuju proses kehidupan yang SuksesMulia, Mahatma Gandhi kita tahu namanya, kalau kenal sih engga kayanya ya :D pernah berkata begini “hati-hati dengan PIKIRANmu! Karena pikiran akan menjadi kata-kata, kata-kata akan menjadi tindakan, tindakanmu akan menjadi KEBIASAANmu, kebiasaanmu akan mengakar menjadi KARAKTER dan karaktermu akan menentukan NASIBmu”. Apakah anda juga ingin hidupnya berubah lebih baik? Takdir selalu baik namun nasib belum tentu dan ternyata nasib bisa dirubah dengan cara merubah kebiasaan yang menjadi karakter kita dan itu dimulai dari hal yang sangat simple yaitu “merubah cara berfikir kita”. Apa yang telah anda rencanakan dibulan ramadhan ini? Sudahkah anda menentukan Visi yang jelas? Apa kebiasaan-kebiasaan baru yang anda niatkan untuk tumbuh dalam diri anda?

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah menyimak seminar tentang “membentuk kebiasaan positif” dari seorang motivator, bapak Ismal Zeva dari Bandung, ternyata kebiasaan positif tidaklah tumbuh dengan sendirinya, ia (kebiasaan positif) adalah hasil pembentukan secara SENGAJA oleh mungkin lingkungan, keluarga atau pun motivasi yang kuat dalam diri kita. Sebagai contoh dulu sewaktu kita kecil pernah kah kita merasa malas pergi kesekolah? Saya yakin sebagian besar dari kita mengalaminya, apa yang dilakukan oleh orang tua kita dulu? Mereka mungkin memarahi, memberikan pengertian atau memberikan motivasi dan alasan-alasan agar kita mau bersekolah, hal tersebut dibentuk tidak dalam satu malam namun prosesnya mungkin tahunan akhirnya “pemaksaan” yang dulu orang tua kita lakukan menjadikan diri kita menjadi pribadi yang seperti saat ini. Atau contoh lain, mungkin ada diantara anda yang sedang berlatih untuk bersedekah rutin dibulan ini? Awalnya mungkin tidak mudah menyisihkan secara rutin rezeki yang kita miliki, dari Rp.1.000 menjadi Rp.10.000, dan terus naik mungkin sampai sebuah kondisi dimana kita sangat ringan untuk bersedekah walaupun jumlahnya cukup besar, sadari bahwa hal tersebut adalah hasil “pemaksaan” kepada diri kita yang sengaja dibuat. 

Saya setuju tidaklah mudah untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan positif yang ingin kita bentuk, ada faktor penghambat yang mungkin kita alami, apakah itu dari internal atau eksternal diri kita. Namun ada sebuah poin penting yang perlu kita perhatikan dalam rangka menciptakan kebiasaan-kebiasaan positif tersebut, yakni: faktor eksternal (LINGKUNGAN), apakah seseorang yang tinggal dilingkungan pesantren akan lebih mudah untuk menjadi seorang ustadz? Jawabannya ‘YA’ apakah seseorang yang tinggal dilingkungan Pemabuk akan lebih mendukung untuk menjadi seorang pemabuk? Jawabannya ‘YA’, YA atau YA?. Nabi SAW penah bersabda “Bergaul dengan penjual minyak wangi akan terbawa harum, bergaul dengan pandai besi akan ikut terperciki api” hadist tersebut menjelaskan bahwa lingkungan juga punya andil penting dalam membentuk citra diri kita walaupun ini cuma 80% katanya, namun tolong diperhatikan, 80% itu nilainya besar jika skalanya 100% setuju? 

Terkait dengan pembentukan kebiasaan-kebiasaan positif, inilah waktu yang tepat, it’s the time now for us! Kapan lagi pahala diobral, dosa-dosa dilaundry, amalan dilipat gandakan, setan-setan dibelenggu, nafas menjadi tasbih, doa-doa diijabah sepanjang hari selain di bulan Ramadhan. Ada orang yang tipenya orientasi hasil, akan melakukan jika ada imbalannya, nah bulan ini adalah moment yang sangat tepat untuk mengharapkan imbalan itu. Ada orang yang sangat butuh alasan untuk melakukan perubahan, bulan ini saatnya mereka menemukan alasan itu, ada tipe orang yang butuh suasana yang berbeda dari hari-hari lain untuk benar-benar mendapakan energi perubahan dan ada tipe orang yang butuh teman-teman yang sholeh-solehah untuk memotivasi mereka menjadi pribadi yang lebih baik,, ini bulan ini,, saatnya kita semua move on, bertumbuh menjadi pribadi yang lebih bermartabat, lebih saleh, lebih mulia dan lebih beriman dan bertakwa. 

Eits ada satu lagi hampir kelewatan, saat kebiasaan berubah fisiologi tubuh pun berubah, dalam pandangan ilmu pemberdayaan diri NLP (Neuro-Linguistic Programming) ternyata fisiologi tubuh, state (mood) dan pikiran terkoneksi dalam satu sistem, dengan mengubah salah satunya akan merubah seluruhnya, sebagai contoh bisakah anda menangis sambil tertawa? Hah bisaaa?? Ciyusan? Ada yang error dalam system saraf anda kayanya, coba tes STIFIn dulu deh sama @RizalMuharam di pin:2633a5e0 heheh.. tetep promosi :p. kembali ke laptop, pernah merasa bad mood? Atau pernah liat orang lagi bad mood? Coba perhatiin bagaimana kondisi fisiologi mereka? Diantaranya: badan membungkuk, pandangan melihat kebawah tidak fokus, nafas pendek dan lambat, apalagi? Bisa bantu saya? Nada suara rendah dan mulut tertutup rapat, tertarik kebawah (boleh sambil peragaain) heheh.. ini serius supaya kita tahu bedanya even anda lagi happy sekarang coba lakukan eksperimen singkat ini, saya jamin tiba-tiba mood anda yang tadinya happy jd unhappy. Just do it deh.

Udah praktekin? Gimana perasaan anda? Bosen, BT? Nah dengan merubah keseluruhan fisiologi anda akan merubah mood dan pikiran anda. Sekali lagi yukk sama-sama saya mau ngajak sahabat semuanya untuk merubah kondisi fisiologi dengan merubah kebiasaan yang selama ini sudah menjadi rutinitas yang dirasa kurang produktif atau dalam bukunya kake @JamilAzzaini berjudul ‘ON’, menumbuhkan myelin-myelin baru atau memori dalam otot (kebiasaan yang mengkarakter) selama satu bulan penuh dibulan ini, mumpung ada lingkungan yang mendukung dan sudah ada niatan dalam diri, so tunggu apa lagi?. Saatnya kita Move On dibulan RomadhON, Mauuu?? Ingat! Kebiasaan akan membentuk karakter dan karakter akan menentukan NASIBmu. Semoga bermanfaat yah! Ingetin saya kalau saya lupa  terima kasih telah membaca. Salam SuksesMulia

Jumat, 05 Juli 2013

Menjadi SuperMOM

beni badaruzaman

Duh, ko aku mengantuk sekali yah? Padahal belum juga sampai waktu istirahat siang. Kemarin aku juga kesulitan mnghilangkan rasa kantu yang luar biasa seperti ini. Padahal biasanya cukup dengan tidur-tiduran di meja selama setengah jam, lalu diikuti makan siang dan sholat, maka aku akan segar kembali. Tapi beberapa hari terakhir ini rasa kantuk ini tidak bisa  hilang. Bahkan setelah waktu istirahat siang berakhir, aku masih saja menguap. Tidak enak juga rasanya bila rekan-rekan kantor menilai aku tidak semangat kerja. Mudah-mudahan mereka bisa mengerti bahwa aku sungguh-sungguh profesional, tapi..... hoooaahhmmmmm 
Begitulah salah satu warna hari-hari saya beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu, saya adalah seorang ibu yang baru saja memutuskan untuk kembali bekerja sehabis melahirkan. Saya memutuskan untuk kembali bergelut dengan dinamika hidup profesional, setelah sebelumnya berhenti bekerja demi memaksimalkan usaha memiliki momongan. Begitu bahagianya ketika Tuhan mengkaruniai saya seorang anak, dan kebahagiaan ini memberikan semangat lebih ketika memutuskan untuk kembali bekerja karena sekarang ada seorang anak yang memotivasi saya. Sebelum melangkah lebih jauh, pertama-tama saya ingin berbagi beberapa hal yang mendorong saya untuk menjadi seorang ibu yang bekerja. Mudah-mudahan hal-hal berikut juga bisa menyemangati Anda yang masih ragu untuk mengambil langkah serupa:

1. Finansial

Ibu yang bekerja jelas akan menambah pemasukan keluarga. Dengan sokongan finansial yang lebih baik, keluarga dapat menikmati kualitas hidup yang juga lebih baik. Keluarga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan penting seperti gizi yang cukup, pendidikan yang baik, dan tempat tinggal serta pakaian yang layak. Selain itu, keluarga juga mampu memenuhi kebutuhan pelengkap seperti hiburan dan fasilitas kesehatan yang memadai.

2. Relasi dengan suami

Wanita bekerja cenderung memiliki wawasan yang luas, pola pikir yang terbuka, dan sikap yang dinamis. Hal ini dapat menunjang relasi yang sehat dan positif dengan suami. Sebagai istri, seorang wanita bekerja bisa dijadikan partner bertukar pikiran untuk saling membagi harapan dan pandangan. Dengan demikian, suami tidak merasa sendirian dalam memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

3. Relasi dengan anak

Masih terkait dengan kecenderungan wanita bekerja yang berwawasan luas, hal ini nantinya juga akan menjadi keuntungan ibu dalam membimbing perkembangan sang anak. Memasuki usia sekolah, tentu anak akan memiliki banyak pertanyaan yang menuntut wawasan luas ibu agar dapat memberi jawaban memuaskan. Sedangkan ketika menginjak usia remaja dan dewasa, anak akan lebih bisa menerima ibu yang memiliki pola pikir terbuka dan dinamis sehingga anak tidak takut membagi masalah kesehariannya dengan ibu.

4. Kebutuhan sosial

Para ibu juga manusia biasa yang mempunyai kebutuhan untuk menjalin relasi sosial dengan orang lain. Dalam dunia bekerja, ibu akan memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan rekan dan relasi sehingga akan banyak pula kesempatan untuk membina hubungan sosial. Ibu bisa saling berbagi perasaan, pandangan dan solusi mengenai berbagai hal.

5. Harga diri dan identitas

Bekerja memungkinkan wanita mengekspresikan dirinya dengan cara yang produktif dan kreatif. Dengan bekerja, wanita berusaha menemukan arti dan identitas dirinya melalui penyaluran potensi-potensi yang dimiliki. Di samping itu, wanita bekerja juga dituntut senantiasa meningkatkan ketrampilan dan kompetensi yang ia miliki untuk bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan pekerjaan. Pencapaian tersebut pada akhirnya akan mendatangkan rasa percaya diri dan kebahagiaan baik sebagai wanita, maupun sebagai karyawan.

Meskipun banyak keuntungan yang bisa diraih, ternyata menjalani peran ganda sebagai seorang ibu dan karyawati dalam waktu yang bersamaan tidaklah semudah yang saya kira. Peran sebagai ibu sekaligus ibu rumah tangga di rumah sering kali mempengaruhi kinerja saya di kantor. Begitu juga sebaliknya, kesibukan profesional di kantor juga tak jarang menghambat saya untuk menjadi ibu rumah tangga yang ideal. Kalau dipikir-pikir, pergelutan peran antara ibu rumah tangga dan wanita karier ini terasa seperti lingkaran setan. Masalah kedua peran ini saling bertautan erat, tanpa tahu harus mulai dari mana untuk memperbaikinya. Sepertinya manusia biasa tidak akan mampu menjalani dua peran ini secara gemilang. Dibutuhkan sebuah ilmu super ... untuk menjadi SUPERMOM!

Langkah awal untuk menjadi seorang supermom adalah mencari referensi sebanyak-banyaknya mengenai tips yang dapat membantu menjalani keseharian ibu bekerja. Referensi bisa didapat melalui buku, artikel, atau seminar-seminar. Kalau dari pengalaman pribadi saya, yang paling membantu justru adalah referensi dari teman-teman yang sudah terlebih dahulu menjalani kehidupan ibu bekerja. Dari mereka, saya memperoleh sejumlah tips berharga mengenai cara mensiasati peran ganda ini. Ya, MENSIASATI, karena langkah selanjutnya dalam menjadi supermom adalah menetapkan tujuan yaitu meminimalisir (bukan meniadakan) konflik yang bisa timbul dari usaha menjalankan dua peran sekaligus. Meminimalisir di sini berarti para ibu bekerja perlu sadar bahwa tidak selamanya kita akan berhasil melakukan dua hal dalam satu waktu. Para ibu bekerja harus berani menerima kenyataan bahwa akan ada saat dimana mereka kurang berhasil dalam urusan rumah tangga, dan suatu ketika kurang berhasil dalam urusan pekerjaan. Oleh karena itu, ibu bekerja sebaiknya berbesar hati menerima bahwa untuk mengambil langkah sebagai ibu bekerja saja sudah merupakan kebanggaan tersendiri. Maka tidak perlu berusaha mati-matian untuk menjadi ibu bekerja yang sempurna. Alih-alih menjadi sempurna, bukan tidak mungkin kesehatan fisik (dan mental) menjadi korban sehingga ibu bekerja justru menjadi beban bagi keluarga.

Nah, sebagai langkah selanjutnya, berikut saya utarakan beberapa hal yang mempermudah usaha saya menjadi supermom. Hal-hal berikut saya kumpulkan dari berbagai sumber, juga dari pengalaman rekan-rekan supermom lain.

1. Jadikan suami sebagai partner

Dalam biduk rumah tangga, dibutuhkan kerja sama yang baik antara suami dan istri. Ibaratnya, suami dan istri seperti kaki kanan dan kiri yang bekerja sama untuk saling memudahkan langkah maju ke depan. Begitu juga dengan keputusan untuk menjadi ibu bekerja. Seperti yang telah dibahas, menjadi ibu bekerja jelas dapat meningkatkan kualitas hidup keluarga. Oleh karena itu, sebagai bentuk penghargaan terhadap usaha istri, sudah sepantasnya suami ikut membantu istri dalam menjalani peran gandanya. Komunikasikan baik-baik dengan suami mengenai hal-hal yang dapat ia lakukan untuk membantu Anda. Mulai dari hal-hal teknis seperti membagi jadwal bergadang menemani si kecil tidur, menyiapkan sarapan atau makan malam, membawa si kecil cek kesehatan rutin ke dokter, dan sebagainya. Anda juga bisa berbagi dengan suami mendiskusikan hal-hal dilematis seperti misalnya ketika Anda harus dinas ke luar kota.

2. Beri suami kesempatan

Masih terkait dengan melibatkan suami sebagai partner. Terkadang para ibu memiliki penilaian bahwa suami tidak akan mampu mengurus hal-hal rumah tangga. Memang sulit untuk menghapus nilai yang sudah tertanam bahwa “perempuan yang paling tahu urusan dapur”. Apalagi jika menyangkut urusan si kecil. Tanpa sadar ibu terkadang menilai ayah tidak setrampil dirinya dalam memahami dan memenuhi kebutuhan bayi. Sebenarnya, ada banyak hal yang bisa ibu ajarkan kepada ayah sehingga ibu bisa tenang mendelegasikan tugas-tugasnya. Contohnya, ibu bisa mengajarkan kepada ayah bagaimana cara mengganti popok basah dengan benar. Dengan demikian, di waktu-waktu tertentu ibu bisa beristirahat karena tugas mengganti popok sudah bisa dilakukan ayah. Selain itu, ayah juga akan mengalami kebahagiaan tersendiri karena merasa ikut terlibat dalam perkembangan si kecil.

3. Realistis – cari bantuan

Menjadi supermom sekali lagi bukan berarti menjadi seorang ibu dengan kekuatan super, yang mampu mengerjakan semua hal sendiri. Ibu bekerja harus realistis dan tidak bermimpi menjadi wanita super karena pasti akan ada saat-saat dimana ibu membutuhkan bantuan pihak lain. Misalkan saja ketika anak memasuki usia sekolah. Mungkin ibu (dan ayah) akan kesulitan mengantar si kecil ke sekolah setiap pagi karena pada saat yang bersamaan juga harus berangkat ke kantor yang tidak searah dengan sekolah anak. Nah, pada saat seperti ini, wajib hukumnya untuk meminta bantuan pihak lain. Mungkin si mbok di rumah, atau jasa angkutan antar-jemput khusus dari sekolah. Untuk hal-hal lain, ibu juga harus jeli memilih pihak yang akan dimintakan pertolongan. Prioritaskan mencari bantuan dari keluarga terdekat, atau tetangga yang sudah dikenal baik. Ini berarti ibu bekerja juga harus pintar-pintar menjalin hubungan baik dengan keluarga dekat maupun tetangga, karena bisa saja sewaktu-waktu bantuan mereka dibutuhkan.

4. Jangan merasa bersalah

Sadari bahwa keputusan untuk bekerja adalah pilihan yang diputuskan sendiri. Bila terjadi sesuatu, jangan sesali keputusan yang telah dibuat. Itu hanya akan membuat ibu bekerja terperosok dalam kondisi emosi yang negatif. Pikirkan bahwa setiap keputusan memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing. Walaupun menjadi ibu bekerja terkadang merepotkan, tapi tentu ada banyak keuntungan lain yang bisa dinikmati keluarga. Oleh karena itu, tidak ada gunanya merasa bersalah karena telah “meninggalkan keluarga”. Sebenarnya, langkah Anda menjadi ibu bekerja justru merupakan bentuk tanggung jawab Anda pada keluarga.

5. Waktu untuk “SAYA”

Ini dia yang sering terlupakan oleh banyak ibu bekerja. Saking sibuknya membelah diri antara menjadi ibu rumah tangga dan wanita karier, seringkali para ibu bekerja mengesampingkan jauh-jauh beberapa hal yang sebenarnya penting bagi keseimbangan mentalnya. Begitu tenggelamnya ibu bekerja di dalam lautan kewajiban, sehingga ia lupa bahwa sesungguhnya ia juga punya hak untuk bersenang-senang. Dalam hal ini, seorang ibu bekerja tidak boleh lupa melakukan refreshing untuk diri sendiri. Luangkan waktu melakukan hal-hal yang bisa kembali membuat Anda merasa rileks, misalnya ke salon, jalan-jalan ke mall, atau sekedar membaca buku novel romantis. Kegiatan semacam ini bukan merupakan aksi egois, malah justru perilaku yang dilakukan demi kemaslahatan orang banyak. Jika ibu bekerja bisa tetap merasa bahagia, maka orang-orang di sekitarnya juga bahagia kan?

6. Waktu untuk suami

Meski sibuk bekerja dan mengurusi anak, jangan sampai suami Anda terlupakan. Banyak riset tentang perceraian mengungkap bahwa “perasaan ditinggalkan” merupakan salah satu faktor penting yang mendorong suami-suami untuk bercerai dari istrinya. Jangan sampai suami berpikiran bahwa ia hanya duduk di urutan kesekian, setelah urusan karier dan anak. Ingat, suami Anda adalah partner. Partner anda juga butuh perhatian lho. Ada beberapa aktivitas yang bisa Anda lakukan dengan suami, misalnya nonton teve/bioskop, makan siang atau makan malam berdua. Anda juga bisa saling menelepon atau mengirim SMS saat bekerja. Agar sukses berduaan dengan suami di rumah, sebaiknya tidurkan dulu si kecil. Dengan begitu, Anda berdua bisa lebih leluasa ngobrol atau berhubungan intim.

7. Pantang menyerah

Pada awalnya, besar kemungkinan ibu bekerja akan merasa keteteran dengan banyaknya hal yang harus dilakukan bersamaan. Mungkin ada kalanya ibu bekerja merasa tidak mampu dan putus asa. Tidak sedikit ibu bekerja yang hanya tahan beberapa bulan saja menjalani kedua perannya tersebut. Hal ini sebaiknya dihindari karena pada umumnya sebuah peralihan memang akan sedikit banyak menguras energi untuk mampu beradaptasi dengan baik. Namun jika mau sedikit bersabar, lambat laun biasanya akan ditemukan cara-cara untuk bermain lebih cantik lagi. Oleh karena itu, ibu bekerja sebaiknya menyemangati diri sendiri bahwa menjadi ibu bekerja merupakan hal yang bisa dilalui dengan baik. Pelan-pelan dan tidak lupa untuk belajar dari pengalaman, meniti jalan menuju menjadi supermom yang sesungguhnya.

Wah wah wah... ternyata banyak juga ya hal-hal yang bisa membantu Anda menjadi supermom? Mudah-mudahan pengalaman pribadi saya ini bisa menyemangati Anda yang masih ditengah-tengah proses perubahan diri dari ibu rumah tangga biasa menjadi ibu bekerja yang luar biasa. Dengan penuh percaya diri sekarang saya bisa mengatakan bahwa menjadi supermom merupakan hal yang sangat berharga bagi saya. Dan saya yakin, kebanggaan saya terhadap hal ini akan memberikan atmosfir positif bagi keluarga. Jadi tunggu apa lagi? segera kenakan kostum Anda dan bertransformasilah!

Septiana Runikasar (lptui.com)