Minggu, 09 Juni 2013

Cara Bijak Mencintai Anak

beni badaruzaman

"Om Kami ingin anak kami itu memperoleh atau menikmati apa yang tidak kami nikmati waktu kami kecil, kami ingin anak kami memiliki kehidupan yang sempurna, menurut kami ini bentuk kami mencintai anak kami, bagaimana tanggapan Om"

Dialog diatas adalah sepenggal kalimat yg terlontar dari sebuah keluarga yg kehidupannya lebih beruntuk ketika mereka dimasa kecil, dan ini mungkin sebagian dari kisah kita juga.

Memanjakan anak tidak sama dengan mencintai mereka. Dengan memanjakan anak, Anda justru menjerumuskan mereka ke dalam ketidakmandirian. Anda tentu sadar bahwa Anda tidak akan bisa selamanya bersama-sama anak. Akan tiba waktunya dimana sang anak harus menjalani kehidupannya sendiri tanpa ada orang tua yang menyokong dan siap menjadi busa yang empuk ketika mereka jatuh. Untuk itu, Anda perlu memberikan pengalaman-pengalaman berharga tentang hidup, yang akan menyiapkan anak dalam menjalani kehidupannya kelak. Caranya, dengan MENCINTAI mereka:

Anda MENCINTAI anak ketika Anda membiarkan mereka jatuh dari sepeda, kemudian menyemangati mereka untuk mencoba lagi.

Anda MENCINTAI anak ketika Anda membiarkan mereka membuat kesalahan ketika mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), membimbing mereka menemukan kesalahan tersebut, namun meminta mereka untuk memperbaikinya sendiri. Sangat mudah bagi Anda untuk langsung memperbaiki kesalahannya, namun anaklah yang perlu belajar – bukan Anda.

Anda MENCINTAI anak ketika Anda membuat mereka menunggu sampai saat ulang tahun atau kenaikan kelas untuk memberikan benda-benda yang mereka inginkan. Anda memberikan pelajaran tentang usaha dan perasaan antusias menunggu untuk bisa mendapatkan hal yang berharga.

Anda MENCINTAI anak ketika Anda membuat mereka mengembalikan barang-barang yang mereka ambil dari orang lain. Anda meminta anak meminta maaf kepada pemilik barang tersebut dan menjelaskan kepada anak bahwa tidak semua hal yang mereka inginkan bisa mereka peroleh dengan seenaknya.

Anda MENCINTAI anak ketika Anda siap membantunya ketika ia terlibat masalah. Ketika ia yang menyebabkan masalah, Anda memastikan bahwa anak harus meminta maaf dan memperbaiki perilakunya. Sebaliknya, jika ia yang menjadi korban, Anda yakinkan dia bahwa Anda akan membelanya dan bersama-asma emncari jalan keluar.

Anda MENCINTAI anak ketika Anda seringkali mengatakan bahwa mereka adalah anugerah Tuhan bagi Anda, dan Anda adalah orang tua yang paling beruntung di dunia. Anda sangat MENCINTAI anak ketika Anda mengatakan hal ini setiap hari, sehingga mereka akan siap menghadapi dunia dengan perasaan berharga dan penuh percaya diri.

Nah, pada titik ini Anda pasti sudah bisa membedakan antara memanjakan dan mencintai anak. Anda juga tentu sudah sadar bahwa MENCINTAInya jauh lebih berguna bagi anak, dibanding jika Anda memanjakannya. Mudah-mudahan tulisan kecil di atas bisa membantu Anda dan istri menjadi orang tua yang mencintai anak dengan lebih baik lagi. Selamat menjadi orang tua yang bijak!

Sabtu, 08 Juni 2013

Self Awareness: Langkah awal menuju adaptasi emosi

beni badaruzaman

“Aku tidak bisa hidup tanpa dia! Aku tidak berguna!”
“Jangan begitu, masih banyak yang bisa kamu lakukan dalam hidup”
“Tapi cuma dia yang bisa membuatku bahagia”
“Masih ada pria-pria lain yang pasti lebih baik darinya”
“Aku tidak peduli! Pokoknya hidupku sekarang sudah tak berarti lagi!”

Percakapan singkat di atas adalah penggalan adegan dari sebuah sinetron di televisi. Kisah klise tentang seorang wanita yang ditinggal pergi pasangan yang sangat dicintainya. Banyak alasan kenapa sang pria pergi. Bisa jadi karena bekerja di lain kota, selingkuh dengan wanita lain, atau bahkan meninggal dunia karena tertular penyakit langka. Yang jelas, sepeninggal pria ini, sang wanita merasa kehilangan jati diri. Ia terlarut dalam emosi kesedihan yang mendalam hingga ia pun merasa hidupnya telah berakhir.

Pernahkah Anda mengalami hal yang serupa? Mungkin bukan kasus putus cinta, namun kasus-kasus lain dimana Anda sulit menanggulangi emosi Anda sendiri. Salah satu kasus sederhana yang sering terjadi adalah ketika berkendara di jalan raya. Seberapa sering Anda merasa ”tersinggung” ketika ada kendaraan lain yang menyerobot jalur Anda, hingga kemudian Anda tancap gas untuk kembali menyusul kendaraan tersebut? Atau pernahkah Anda memaki-maki supir kendaraan umum yang seenaknya menghentikan kendaraan di tengah jalan untuk menaikkan penumpang? Atau kejadian emosional lain di situasi yang berbeda, misalnya di kantor. Di tengah kekalutan mendekati deadline kerja, biasanya apa yang Anda lakukan? Tak henti-henti mengumpat karena atasan Anda justru menambah beban kerja? Memarahi staf Anda karena sepertinya mereka malah kerja berlambat-lambat? Ataukah justru Anda bolos kerja karena tidak kuat lagi menghadapi tekanan di kantor? Tanpa disadari, ternyata emosi banyak sekali mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita sama-sama telusuri dulu apa yang dimaksud dengan emosi.

Emosi merupakan suatu reaksi mental dan psikologis yang muncul secara spontan ketika seseorang berhadapan dengan suatu kondisi. Misalnya, ketika seseorang menjalani hari pertamanya berkerja sebagai sekretaris, maka wajar jika ia merasa senang karena mendapat pekerjaan, sekaligus merasa takut melakukan kesalahan mengetik. Lebih lanjut, terdapat empat jenis emosi dasar yaitu:

  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Takut

Keempat emosi ini kemudian berkembang menjadi berbagai emosi seperti cemas, malu, jijik, dan sebagainya. Emosi sendiri sebenarnya tidak memiliki muatan “benar” atau ”salah” karena ini merupakan reaksi manusiawi dalam menghadapi sesuatu. Perilaku yang mengikuti emosilah yang bisa dinilai “benar” atau “ salah”. Dalam  kasus sekretaris baru tadi, jika ia tidak mampu mengatasi emosi takut yang ia rasakan dan kemudian mengetik dengan terlalu hati-hati sehingga memakan waktu yang sangat lama untuk membuat satu surat saja, maka perilaku inilah yang dapat dinilai “salah”.

Perlu diperhatikan bahwa tidak hanya emosi negatif seperti takut, marah, atau sedih saja yang bisa membuat kita menunjukkan perilaku yang “salah”. Emosi positif seperti bahagia juga bisa merugikan jika kita tidak paham bagaimana cara mengaturnya menjadi perilaku yang sesuai. Salah satu contoh adalah kasus siswa-siswa yang lulus ujian akhir nasional. Mereka menunjukkan luapan kegembiraannya dengan melakukan konvoi di jalan, membuat coret-coretan di dinding, atau bernyanyi-nyanyi dengan suara keras yang mengganggu orang lain. Tentunya kegembiraan mereka tidak salah karena mungkin mereka memang telah berusaha maksimal untuk lulus, namun cara mereka menunjukkan kegembiraan itulah yang tidak wajar dan dinilai salah menurut umum.

Wah, kalau emosi positif saja bisa merugikan, berarti kita benar-benar harus pandai mengendalikan perilaku yang menyertai emosi tertentu. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan perilaku emosional kita? Langkah pertama adalah memiliki self-awareness.

Self Awareness

Untuk dapat mengendalikan perilaku emosional, kita perlu mengenali dulu emosi apa yang kita rasakan pada suatu waktu. Self Awareness (kesadaran diri) adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya. Prosesnya berupa semacam refleksi dimana seseorang secara sadar memikirkan hal-hal yang ia alami berikut emosi-emosi mengenai pengalaman tersebut. Dengan kata lain, Self Awareness adalah keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut.

Seorang pakar psikologi yang banyak menekuni permasalahan emosi, John D. Mayer, mengatakan bahwa umumnya ada 3 gaya yang tampil ketika seseorang menghadapi emosinya, yaitu:

Terbebani (Engulfed)
Tipe ini tenggelam dalam emosi-emosinya dan tidak mampu keluar dari situasi ini. Mereka tidak memahami emosinya sendiri sehingga bisa mudah larut terbawa emosi. Akibatnya, mereka tidak banyak berusaha untuk keluar dari kondisi emosi tertentu dan akhirnya tidak mampu mengontrol perilaku emosionalnya. Contohnya adalah kasus putus cinta yang jadi pembuka artikel ini, atau kasus orang yang memaki-maki pengendara lain karena lalu lintas yang macet. Mereka tidak meluangkan waktu lebih banyak untuk menyadari emosi sedih atau marah yang sedang mereka rasakan. Begitu merasakan emosi tertentu, tanpa pikir panjang mereka langsung bereaksi sesuai dorongan emosi tersebut.

Menerima (Accepting)
Orang-orang ini sebenarnya menyadari emosi apa yang mereka rasakan namun cenderung menerima begitu saja emosi yang sedang terjadi dan tidak mencoba memahami emosi tersebut lebih jauh. Pada akhirnya mereka tidak berusaha untuk beradaptasi dengan emosi yang muncul. Hal ini bisa menjadi masalah ketika emosi yang dialami adalah sedih, lalu dibiarkan berkepanjangan sehingga bisa menimbulkan perasaan tertekan (depresi). Hal lain terjadi ketika emosi yang dirasakan adalah marah atau takut. Mungkin saja dalam jangka panjang, emosi marah yang dibiarkan ini bisa berubah jadi perasaan dendam, sedangkan emosi takut bisa menjadi paranoid (rasa takut berlebihan yang tidak jelas alasannya).

Sadar diri (Self-aware)
Orang-orang dengan gaya ini menyadari dan memahami emosi yang terjadi pada dirinya. Mereka mengetahui batas-batas norma yang perlu dijaga dan berpikir untuk mengelola emosi yang dirasakan agar perilakunya masih berada dalam ambang batas tersebut. Pada waktu merasakan emosi positif, orang-orang yang sadar diri mampu menunjukkan kegembiraannya dengan sesuai dan bisa mempertahankan perasaan menyenangkan dari emosi itu untuk beberapa lama. Di lain pihak, ketika mengalami emosi negatif, mereka tidak terlalu terobsesi dengan hal yang memicu emosi tersebut dan bisa segera keluar dari perasaan tidak nyaman. Contohnya ketika orang yang sadar diri mengalami putus cinta. Kemungkinan besar ia akan memahami bahwa emosi sedihnya itu wajar ia rasakan, namun tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Ia akan mencari kegiatan lain yang lebih produktif untuk mengatasi perasaan sedih yang mendalam tersebut.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa ketika sadar diri kita jadi lebih mudah mengontrol emosi yang dirasakan sehingga bisa lebih efektif mengendalikan perilaku emosional kita. Kita bisa lebih memahami emosi kita berikut alasan-alasan yang menjelaskan kenapa kita merasakan emosi tersebut. Dan dengan menyadari alasan munculnya suatu emosi, berarti kita telah mendorong otak kita berpikir tentang tingkat kepentingan sumber masalah.
Begini contohnya. Misalnya seorang karyawan terjebak di kemacetan. Orang yang sadar diri akan menyadari bahwa ia merasakan emosi marah karena dirinya lelah sepulang dari hari yang padat di kantor. Ia ingin cepat tiba di rumah karena anak dan istri telah menunggu. Ketika ada kendaraan lain yang menyerobot jalurnya, sebenarnya si karyawan sudah siap untuk murka, melampiaskan amarahnya pada pengemudi kendaraan yang tidak sopan itu. Tapi karena ia sadar diri, ia berpikir lagi alasan kenapa dirinya ingin cepat-cepat pulang. Pada akhirnya ia bisa menyadari bahwa jauh lebih penting untuk bisa tiba di rumah dengan selamat daripada menyulut perkelahian di jalan raya. Nah, pilihan yang tepat bukan?

Dengan keuntungan-keuntungan menjadi orang yang sadar diri, tentu kita ingin menjadi orang yang demikian. Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah caranya?

Membangun Self Awareness

Kesadaran diri dapat dibangun dengan mengaktifkan bagian otak yang disebut neokorteks. Ini adalah bagian otak yang terkait dengan penggunaan bahasa. Artinya, untuk meningkatkan kesadaran diri, Anda perlu “membahasakan”, mengidentifikasi, dan menamai emosi yang Anda rasakan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:

I Messages (Pesan “Saya.....”)
Menuliskan atau menyatakan perasaan dengan menggunakan pesan yang diawali dengan “Saya....”. Contohnya: “Saya merasa perilaku Anda sama sekali tidak menghargai kerja keras saya” atau “Saya kecewa dengan keputusan yang kamu buat”. I message menyadarkan Anda bahwa kendali dari permasalahan yang terjadi ada di tangan Anda. Anda yang merasakan sebuah emosi, Anda yang menyatakan, dan Anda yang memiliki kendali untuk mengubah keadaan.

Berbagai Cara Berbagai Warna
Menggunakan berbagai metode untuk melukiskan dan mendeskripsikan perasaan:
Warna, contoh: warna kuning untuk emosi senang, biru untuk sedih, merah untuk marah, dan lain lain. Anda bisa menggunakannya dalam berpakaian, tinta alat tulis, warna font di komputer, dan sebagainya.

Skala, contoh: “Saya cukup merasa bahagia, kira-kira 80 dari 100 lah”. Ini memberi gambaran yang cukup terukur kira-kira seberapa kuat intensitas emosi yang Anda alami. Jika Anda bisa mengatakan bahwa kesedihan Anda berskala 50:50, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk berlarut-larut dalam kesedihan itu.

Analogi, contoh : “Kalau saya ini gunung, saya sudah mau meletus!”. Analogi ini juga bisa digunakan sebagai pengukur intensitas emosi Anda. Bagi orang Indonesia, analogi seperti ini biasanya lebih mudah dipahami karena budaya kita memang banyak mengajarkan simbolisasi dalam bahasa (contoh: bagai kacang lupa kulitnya).

Menuliskan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Hal ini ditujukan untuk menjelaskan kepada diri sendiri alasan dari emosi yang sedang Anda rasakan. Contoh: ketika Anda marah pada saat staf Anda tidak ikut memikul beban kerja yang sama, Anda bisa menuliskan “Saya ingin dia ikut lembur ketika saya lembur” beserta kebutuhan/keinginan lain yang Anda sadari. Semakin banyak kebutuhan/keinginan yang Anda tuliskan, maka Anda akan semakin menyadari keadaan emosi diri.

Menuliskan yang ingin dilakukan
Sebenarnya ini sudah memasuki tahap lanjutan dari Self Awareness. Setelah Anda menyadari emosi-emosi yang sedang dialami, langkah selanjutnya adalah menentukan hal apa yang ingin Anda lakukan selanjutnya terkait dengan emosi tersebut. Pada contoh Anda marah pada staf yang malas-malasan tadi,  Anda bisa menuliskan “Saya ingin memotong gajinya kalau pulang lebih cepat lagi” atau “Saya akan langsung menegurnya jika ia menolak penugasan".  Dengan menuliskan hal yang ingin dilakukan, Anda memberikan kesempatan bagi otak untuk kembali berpikir: apakah hal-hal tersebut sudah sesuai dan tidak menyalahi norma yang berlaku.

Dengan membiasakan hal-hal di atas, Anda akan bisa merasa lebih nyaman menghayati emosi-emosi Anda tanpa harus larut dan lepas kendali. Nah, setelah Anda belajar banyak tentang emosi dan Self Awareness, tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk merasa tidak berdaya ketika dilanda suatu emosi yang kuat. Baik itu emosi negatif, maupun emosi positif. Sekarang Anda sudah belajar untuk membuat diri Anda sendiri menyadari emosi-emosi tersebut. Tinggal separuh langkah selanjutnya dimana Anda merencanakan perilaku yang sesuai untuk mengekspresikan emosi tersebut kepada orang lain.

Senin, 03 Juni 2013

Resensi Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion

beni badaruzaman

Beberapa  waktu yang lalu saya membeli sebuah buku yang bagus dan sampai sekarang masih suka dibaca terutama pada saat saya membutuhkan ‘energi’ untuk recharge kembali motivasi hidup yang kadang hampir padam. Kemanapun saya pergi buku tersebut selalu menemani dalam setiap perjalanan. Buku tersebut berjudul ‘Fight Like a Tiger , Win Like a Champion’ yang ditulis oleh Darmadi Darmawangsa dan Imam Munadhi. Bahasa yang digunakan menurut saya enak untuk dibaca. Kebanyakan isinya berupa cerita yang menginspirasi pembaca untuk menggali lebih dalam makna di balik cerita tersebut. Sebagaimana dalam pengantar oleh penulisnya bahwa buku tersebut merupakan ‘kumpulan cerita inspiratif yang dipadukan di dalam prinsip prinsip siap pakai’.

Buku setebal 365 halaman + 17 halaman tambahan, diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada saat saya membeli sudah masuk dalam cetakan ke 8. Yang berarti bahwa buku ini menjadi salah satu best seller di tanah air. Walaupun mempunyai judul dalam bahasa inggris namun sesungguhnya isinya murni bahasa Indonesia. Sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh siapa saja termasuk yang awam dalam bahasa inggris.

Setiap bab menyuguhkan cerita motivasi dan prinsip yang memberikan anda dorongan untuk pengambilan tindakan yang besar guna tercapainya tujuan hidup anda. Buku ini memberikan berbagai tips sederhana namun berguna agar dapat langsung dipraktekkan. Delapan prinsip kesuksesan dalam buku ini menunjukkan bagaimana membangun sikap yang positif, memiliki mimpi yang besar, bagaimana menemukan karier yang anda cintai dan masih banyak lagi. Setiap prinsip diulas secara mendalam, disajikan dalam satu bab khusus. Jadi setiap bab masing masing berisi satu prinsip untuk dibahas. Setiap bab utama tersebut selalu diawali dengan kata ‘The Power Of…’.

1. The power of Positive Attitude

Bab ini membahas mengenai apa pengertian dari positive attitude serta hal hal apa saja yang diperlukan agar pembaca dapat mempunyai attitude seperti yang diharapkan. Bagaimana kita harus berfokus terhadap tujuan untuk mencapai keberhasilan. Serta menyikapi masalah yang muncul dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut.

2. The Power Of Belief

Belief atau keyakinan akan mempengaruhi sikap/attitude terhadap setiap permasalahan hidup yang dihadapi, “if you believe you can..You can”. Begitu salah satu prinsip seorang juara mengenai sebuah keyakinan. Membahas mengenai bagaimana mendayagunakan keyakinan sebagai salah satu prinsip kesuksesan .

3. The Power Of Goals

Kunci kesuksesan dibangun dari tujuan yang kuat agar dapat dicapai. Tanpa tujuan/goals yang jelas mustahil dicapai sesuatu yang berarti. Bagaimana memvisualisasikan goals yang ingin diperoleh serta kriteria goals seperti apa yang sebaiknya dibuat atau ingin dicapai, semuanya dibahas pada bab ini.

4. The Power Of Failures

Kegagalan merupakan bekal kesuksesan pada masa mendatang dengan mengingatkan bahwa setiap kegagalan membawa bibit yang dapat menghasilkan keuntungan yang sama atau bahkan jauh lebih besar. Kegagalan juga sebuah proses dalam mencapai sebuah keberhasilan. Apa yang seharusnya kita ambil mengenai kegagalan yang dialami, anda dapat menemukannya di bab ini. Juga bagi anda yang selama ini merasa trauma dengan kegagalan , anda mungkin akan menemukan pemecahan nya disini.

5. The Power Of Motivation

Motivasi yang positif akan menghasilkan hasil akhir yang positif pula, begitu pula sebaliknya . Mengapa harus mempunyai motivasi yang positif dan apa yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan motivasi yang positif , akan diperoleh jawabannya melalui bab ini.

6. The Power Of Awareness

Bersiaplah untuk menghadapi setiap perubahan dalam hidup, karena satu satunya yang pasti adalah perubahan itu sendiri. Pada bab ini dibahas mengenai cara untuk menghadapi perubahan tersebut serta faktor faktor lain yang masih berhubungan dengannya.

7. The Power Of Integrity

Integritas yang kita punya dalam perjalanan mencapai sebuah kesuksesan akan menentukan hasil akhir dari kesuksesan tersebut. Bagaimana sikap yang hendaknya dimiliki oleh seorang juara, anda akan menemukan jawabannya pada pembahasan ini.

8. The Power Of Consistent and Persistent Action

Pada bab akhir ini dibahas mengenai langkah yang seharusnya diambil untuk mencapai tujuan. Pada intinya adalah jangan pernah menyerah walaupun rintangan selalu menghadang. Sebuah penutup yang bagus untuk direnungkan dan diambil manfaat nya.

Pada akhir setiap pembahasan kedelapan bab tersebut di tambahkan pula rangkuman. Sehinga anda akan dapat menarik dengan mudah makna apa yang tersurat dalam pembahasannya. Jadi lebih mudah untuk diingat setiap point penting dari setiap pembahasan. Selain itu pula pada akhir buku ini juga dirangkum berbagai macam pepatah dari para tokoh dunia, yang sering muncul di tiap pembahasan dalam buku.

Buku ini pantas dijadikan sebagai koleksi anda yang berharga. Gaya penuturan dan isinya menurut saya sangat enak untuk dicerna dan masuk akal. Tidak ada jalan pintas menuju sukses, diperlukan panduan bagaimana cara mencapai kesuksesan itu sendiri. Buku ini layak dibaca untuk memberikan ‘percikan api’ agar ‘tangki semangat’ anda terus menyala siap untuk bertarung bagai harimau, dan meraih kemenagan sebagai seorang juara sejati !

Sumber buku : ‘Fight Like A Tiger, Win Like A Champion’ yang ditulis oleh Darmadi Darmawangsa dan Imam Munadhi.

Sabtu, 25 Mei 2013

Mulailah Dengan Sumber Daya TERBAIK Anda

beni badaruzaman

Dua tahun lalu, 2011, saya mengikuti sebuah workshop, di acara itu saya berkenalan dengan salah seorang ayah dari 2 orang putra putri yang menurut saya cukup vokal dengan sang Trainer sepanjang acara berlangsung. Hari ini saya sangat apresiasi terhadap beliau, saya ikut merasa bangga karena di tahun 2013 ini beliau telah merilis buku perdananya yang berjudul “Terapi Otak Gizi Buruk”, beliau adalah kang Fauzi Albarra CEO dari Berita Cilegon Online. saya sapa dengan panggilan kang Oji secara beliau lahir di USA alias Urang Serang Aseli. heheh

Tanggal 18 Mei 2013 kemarin alhamdulillah saya dan team dari Rumah STIFIn Banten berkesempatan menghadiri bedah buku Terapi Otak Gizi Buruk di Setda Cilegon bersama hampir 100 orang peserta dari berbagai usia dan latar belakang. Menarik, karena acara tersebut langka, biasanya kami menghadiri bedah buku dari penulis yang tidak kami kenal secara pribadi, namun kali ini kami melihat, mendengar penampilan salah satu putra terbaik daerah Banten.

Banyak hal yang saya pelajari disana, meskipun belajar tentang pikiran bukanlah hal yang baru bagi saya, namun adakalanya kita sebagai manusia perlu diingatkan kembali. Sebuah pepatah berkata “jadilah selalu gelas kosong dimana pun” artinya pikiran kita selalu dikondisikan untuk menerima informasi baru, “saya sudah tahu” adalah penghambat terbesar kemajuan diri karena sikap sudah tahu membuat pikiran kita menjadi gelas yang penuh, apa yang terjadi jika kita menuangkan air kedalam gelas yang terisi penuh? Karena Semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak pula yang kita tidak ketahui.

Diantara bahasan yang kang Oji jabarkan, ada sebuah tayangan yang sangat menyentuh hati dan ingin sekali saya bagi dalam tulisan saya kali ini, yaitu tayangan tentang pianis Liu Wei. apa yang menarik dari sosok anak muda yang satu ini, pianis luar biasa memang bukan hanya Liu Wei seorang, namun yang Outstanding dari sosoknya adalah Liu begitu ahli dalam memaikan piano dengan kedua jempol kakinya, ya anda sedang tidak salah membaca, dengan KEDUA JEMPOL KAKINYA. Wah sombong sekali, mungkin ada yang berfikir demikian, ia bukan sedang berunjuk kebolehan dengan kakinya, Liu memang tidak memiliki kedua tangan seperti kita. Ia terlahir dengan keadaan normal, namun sebuah keadaan memaksanya untuk kehilangan kedua buah tangannya. Maka bersyukurlah kita yang saat ini tidak punya kekurangan (fisik) sedikitpun. (cerita yang lebih detail tentang Pianis Liu Wei bisa kita simak di buku “Terapi Otak Gizi Buruk” karya Fauzi Albarra)

Banyak orang mengeluhkan keadaan diri yang serba kekurangan, kurang modal, kurang ganteng/cantik, kurang relasi, kurang pengalaman, dll yang akhirnya membuat mereka enggan bertindak. Manusia selalu diberikan kelebihan dan kekurangan, perthatikan ini! Setiap orang selalu memiliki sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencapai apa pun yang mereka inginkan. Seringkali kita membatasi makna dari sumberdaya tersebut, misalnya mengasosiasikan kata modal selalu dengan uang, padahal apakah modal itu melulu uang? Skill, kejujuran, tanggung jawab, ulet, mau belajar adalah juga modal, betul? Pikirkan ini, apakah seseorang yang “ribut” ingin modal uang lalu anda berikan modal uang misalnya, lantas otomatis membuat mereka berhasil? Yes berhasil merayu anda.. hehe.. banyak orang yang punya modal uang pun bingung mau buka usaha, tul gak? Bahkan orang yang menjadikan modal uang sebagai penghambat usaha mereka sebetulnya berpotensi untuk bangkrut. Yes! Bisnis tidak serta merta berhasil karena uang.

“Mulailah dengan keadaan terbaikmu”, mungkin itulah yang bisa sama-sama renungkan, pikirkan dan praktekan. Seperti kisah Liu Wei tadi, nggak punya tangan untuk main piano? Masih punya kaki yang sehat, normal dan bisa bergerak. Senada dengan kita yang ingin berbisnis, “enggak punya modal buat buka usaha?” mulailah jadi Marketing alias Makelar Everything heheh.. jualin produk/jasa orang lain, tanyakan apakah kita bisa bermitra dengannya? Atau mulailah dengan brosur/katalog. Simpel alasannya, orang jualan mau untung kan? Nah jika kita menawarkan keuntungan berupa membantunya menjual produk/jasa usahanya kira-kira mau nggak?

Di Komunitas Rumah STIFIn Banten, saya belajar dari para mentor bahwa kita memiliki modal bawaan yang disebut kecerdasan dominan di salah satu bagian dari 5 bagian otak kita, yang mana bagian tersebut sering digunakan dan sekaligus menjadi sistem operasi dalam diri kita. Aha! Itu juga merupakan modal terbesar dari diri kita yang berpotensi untuk berhasil lebih mudah dan nyaman dalam menekuni sebuah bidang profesi. Misalnya anda yang punya kecerdasan dominan seorang pemikir, logika, analisa data (Thinking) secara alamiah (genetik) akan lebih mudah untuk menekuni sebuah bidang profesi yang banyak melibatkan analisa, logika dan data sehingga ia berpotensi lebih unggul dibandingkan dengan mereka yang otaknya tidak dominan di area Thinking, nah thinking adalah modal (keberadaan terbaik) anda, mulailah dikembangkan dari situ, begitu pula dengan anda yang memiliki kecerdasan sensing, intuiting, feeling atau insting, mulailah dari yang anda mampu lakukan. Tuhan selalu memberikan sisi kelebihan dibalik kekurangan, kabar baiknya, kita semua punya potensi untuk sukses di bidang apapun yang kita minati. Jadilah versi terbaik dari diri anda, just good isn’t Good Enough. Kenali diri kita, kenali Tuhan kita dan SuksesMulia lebih cepat dan enjoy. Insya Allah.

@RizalMuharam
Pin BBM: 2633 A5E0
WhatsApp 08787 1111 220

Senin, 20 Mei 2013

Renungan : How to Response

beni badaruzaman
Mari kita simak cerita berikut ini;

Seorang ahli NLP pernah berkata;

Pada saat seseorang mengalami peristiwa atau membaca sebuah artikel maka akan selalu keluar dua jenis response;

Yang pertama adalah ia akan merasa terilhami, terinspirasi, tersadarkan dan bersyukur atas peristiwa yg dialami atau artikel yg dibacanya.

Yang kedua adalah ia akan berusaha mencari sisi negatif, sisi lemah, cacad, serta kekurangan dari peristiwa yg dialami atau artikel yg dibacanya.

Padahal sifat utama otak adalah membantu merealisasikan response tersebut, apapun responsnya baik response yg pertama atau yg kedua.

Berdasarkan Riset dari Carlnegie Institute ternyata di ketahui bahwa orang-orang besar yg sukses di kehidupan, selalu memiliki response yg pertama.

Sementara orang-orang yg gagal dalam hidupnya ternyata selalu memiliki response yg kedua.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa sebenarnya Nasib itu di tentukan oleh bagaimana seseorang meresponse, dan bukan karena Tuhan yg memilihkan baginya; nasib yg beruntung bagi seseorang dan kurang beruntung bagi orang yg lainnya.

Mari kita renungkan bersama, terutama jika selama ini merasa bahwa nasib kita selalu saja kurang beruntung.

Jumat, 17 Mei 2013

Buku Best Seller ON Semakin ON

beni badaruzaman

BY JAMILAZZAINI (www.JamilAzzaini.com)

Alhamdulillah, dalam dua pekan buku terbaru saya “ON” ludes di pasaran dan cetakan keduapun sudah diserbu para pembaca. Saya senang karena buku ini bukan hanya dibaca pembaca di Indonesia. Buku ini sudah dibaca di Tunisia, Maladewa, Philipina, Amerika Serikat, Jerman, Australia, India, Hongkong dan beberapa negara lain.

Ribuan testimoni juga sudah silih berganti saya terima via twitter, BBM, SMS dan e-mail. Berikut saya pilih 20 testimoni yang dikirim pembaca via twitter. Doakan ya, semoga banyak orang yang terinspirasi oleh buku “ON”.

Buku ON kalau ditandai post it, bisa penuh setiap halamannya… padat (@little_fera)

Luar biasa deg buku ON, Nonjok, nampol, kerON abis (@ardi_afri)

Buku ON nya benar-benar bikin ON sejagad hari-hari ane dah, suwun kek buat tulisannya, nice banget deh ON nya (@miLmiLoniz)

Baca ON pagi-pagi “skala prioritas” jadi pengen berhenti merokok, doain yak kek (@adiwidinanto)

Baru ampe halaman 40 baca buku ON langsung berkaca-kaca jadi pengen meluk Rosulullah (@indranugroho8)

Mengkhatamkan Buku ON babeh di ruang tunggu Airport Soeta, mata sembab balik ke Makassar (@irna_Mksr)

Habis maghrib nderes Qur’an terus baca buku ON baru sampai halaman 47 airmataku serasa kering, menginspirasi banget (@Noor_Jogja)

@sandhyena sedang testimoni buku ON dan menyarankan leader-leader @BossLuarBiasa untuk ikut training ON (@ninahers)

Kisah dramatis Ukasyah di ON yang jadi gambaran visiON pak @JamilAzzaini membobol pertahanan air mata ini. Lanjut yok (@drBambangEdiS)

Gak sengaja beli buku ON mantap isinya (@Tusilarto)

Membaca buku ON membuat persepsi saya tentang ketidakmungkinan berubah. Lakukan apa yang orang lain hanya tertawakan. Dengan move ON bisa. (@mangutis)

Baru sampai halaman 33 baca buku ON, udah meleleh air mata ini… Kakek @JamilAzzaini harusnya buku ini dibundling sama tisu (@dianabalinda)

Dua hikmah dari baca buku ON by @JamilAzzaini tadi malam adalah 1. Mata sembab sampai sekarang. 2. Jadi sadar VISI hidup saya kurang ON (@casalsabila)

Baru baca sampai halaman 52 buku ON rasanya dicharger, dan mesem-mesem sendiri. Bismillah, Move ON (@adhisawank)

Alhamdulillah, malem ini ayah ngasih buku ON baru baca sedikit tetapi sudah harus bilang “WOW” hehehe keren banget (@amaliawardatul)

ON keren banget mas, benar-benar ngena banget di guwa, semoga bisa menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang (@zulkryogi)

Baca buku ON, bagian awal bukunya aja sudah bikin senyum-senyum terus sebentar kemudian nangis pagi-pagi begini (@rizka_rku)

Pengen ketawa, nangis, terharu sedih, semangat ketika baca buku ON, bukunya keren (@ikaHanif4)

Buku ON itu ibarat snack tapi dengan gizi makanan sehat, makin dilahap…lagi..lagi.. Semakin sehat (@cakaep)

Tadi pagi bilang sama yang punya buku ON, pas dibuka dan merinding bacanya (@radenjulianto)

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan Pak Jamil ? Follow di twitter: @Jamilazzaini

Rumah Stifin Banten telah dipercaya sebagai Associate ON Trainer untuk wilayah banten dengan Trainer : Beni Badaruzaman (@beni_be) & Nazarudin (@Nazar_Jernih), untuk membawakan Training dan Seminar ON.

Anda bisa menghubungi Rizal Muharam (@RizalMuharam) untuk info dan konfirmasi jadwal Seminar/Training juga pembelian Buku ON di No Telp 08787 1111 220

Kabar gembira juga, disetiap pembelian Buku ON akan mendapatkan Voucher potongan harga tes STIFIn senilai Rp. 30.000,- dan VCD Talkshow bersama Rumah Stifin Banten.