Rabu, 17 Juli 2013

RomadhON, Saatnya Move ON

STIFIn Banten
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan, kelancaran dan kesempatan untuk bisa berjumpa dengan bulan suci penuh berkah ini. Sholawat dan salam tercurah kepada baginda Rasulullah SAW dan para sahabatnya sampai kepada kita semuanya. Semoga kita semua dimampukan olehNya untuk menyelesaikan ramadhan tahun ini hingga tuntas dan kembali menjadi pribadi yang fitri (suci), Aammiin.

Gimana kabar puasa ramadhan yang undah seminggu berjalan? semoga lancar, sehat dan diterima puasa kita, Aammiin. Hmm.. by the way sahabat hebat semuanya “barangsiapa yang dengan hati menyambut bulan ramadhan maka haram jasadnya disentuh api neraka” semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dengan suka cita menyambut bulan ramadhan ini. Kapan lagi kita bisa “memaksa” diri kita untuk lebih beriman dan bertakwa selain bulan ramadhan? Betul atau benar? 

Saya pernah mendengar sebuah nasehat bahwa Tuhan (Allah SWT) tidak melihat hasil akhir namun Dia menilai proses yang kita lakukan hingga mencapai hasil akhir hal ini senada dengan pepatah “Success is journey not a destination”, sukses adalah sebuah proses bukanlah tujuan. Menurut saya ini sangat adil kenapa? Karena bicara tentang sukses atau peningkatan 4-TA (harTA, tahTA, kaTA dan cinTA) prosesnya harus diiringi dengan kemuliaan, rubah paradigma berfikir bahwa sukses aja engga cukup. Harta banyak pastika sedekahnya juga banyak, jabatan tinggi pastikan kebijakannya mensejahterakan masyarakat, ilmu (kaTA) tinggi digunakan untuk memakmurkan SDM dan SDA, dan pengaruh yang luas harus diiringi dengan membantu banyak orang menemukan kehidupan yang lebih damai.

Bicara menuju proses kehidupan yang SuksesMulia, Mahatma Gandhi kita tahu namanya, kalau kenal sih engga kayanya ya :D pernah berkata begini “hati-hati dengan PIKIRANmu! Karena pikiran akan menjadi kata-kata, kata-kata akan menjadi tindakan, tindakanmu akan menjadi KEBIASAANmu, kebiasaanmu akan mengakar menjadi KARAKTER dan karaktermu akan menentukan NASIBmu”. Apakah anda juga ingin hidupnya berubah lebih baik? Takdir selalu baik namun nasib belum tentu dan ternyata nasib bisa dirubah dengan cara merubah kebiasaan yang menjadi karakter kita dan itu dimulai dari hal yang sangat simple yaitu “merubah cara berfikir kita”. Apa yang telah anda rencanakan dibulan ramadhan ini? Sudahkah anda menentukan Visi yang jelas? Apa kebiasaan-kebiasaan baru yang anda niatkan untuk tumbuh dalam diri anda?

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah menyimak seminar tentang “membentuk kebiasaan positif” dari seorang motivator, bapak Ismal Zeva dari Bandung, ternyata kebiasaan positif tidaklah tumbuh dengan sendirinya, ia (kebiasaan positif) adalah hasil pembentukan secara SENGAJA oleh mungkin lingkungan, keluarga atau pun motivasi yang kuat dalam diri kita. Sebagai contoh dulu sewaktu kita kecil pernah kah kita merasa malas pergi kesekolah? Saya yakin sebagian besar dari kita mengalaminya, apa yang dilakukan oleh orang tua kita dulu? Mereka mungkin memarahi, memberikan pengertian atau memberikan motivasi dan alasan-alasan agar kita mau bersekolah, hal tersebut dibentuk tidak dalam satu malam namun prosesnya mungkin tahunan akhirnya “pemaksaan” yang dulu orang tua kita lakukan menjadikan diri kita menjadi pribadi yang seperti saat ini. Atau contoh lain, mungkin ada diantara anda yang sedang berlatih untuk bersedekah rutin dibulan ini? Awalnya mungkin tidak mudah menyisihkan secara rutin rezeki yang kita miliki, dari Rp.1.000 menjadi Rp.10.000, dan terus naik mungkin sampai sebuah kondisi dimana kita sangat ringan untuk bersedekah walaupun jumlahnya cukup besar, sadari bahwa hal tersebut adalah hasil “pemaksaan” kepada diri kita yang sengaja dibuat. 

Saya setuju tidaklah mudah untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan positif yang ingin kita bentuk, ada faktor penghambat yang mungkin kita alami, apakah itu dari internal atau eksternal diri kita. Namun ada sebuah poin penting yang perlu kita perhatikan dalam rangka menciptakan kebiasaan-kebiasaan positif tersebut, yakni: faktor eksternal (LINGKUNGAN), apakah seseorang yang tinggal dilingkungan pesantren akan lebih mudah untuk menjadi seorang ustadz? Jawabannya ‘YA’ apakah seseorang yang tinggal dilingkungan Pemabuk akan lebih mendukung untuk menjadi seorang pemabuk? Jawabannya ‘YA’, YA atau YA?. Nabi SAW penah bersabda “Bergaul dengan penjual minyak wangi akan terbawa harum, bergaul dengan pandai besi akan ikut terperciki api” hadist tersebut menjelaskan bahwa lingkungan juga punya andil penting dalam membentuk citra diri kita walaupun ini cuma 80% katanya, namun tolong diperhatikan, 80% itu nilainya besar jika skalanya 100% setuju? 

Terkait dengan pembentukan kebiasaan-kebiasaan positif, inilah waktu yang tepat, it’s the time now for us! Kapan lagi pahala diobral, dosa-dosa dilaundry, amalan dilipat gandakan, setan-setan dibelenggu, nafas menjadi tasbih, doa-doa diijabah sepanjang hari selain di bulan Ramadhan. Ada orang yang tipenya orientasi hasil, akan melakukan jika ada imbalannya, nah bulan ini adalah moment yang sangat tepat untuk mengharapkan imbalan itu. Ada orang yang sangat butuh alasan untuk melakukan perubahan, bulan ini saatnya mereka menemukan alasan itu, ada tipe orang yang butuh suasana yang berbeda dari hari-hari lain untuk benar-benar mendapakan energi perubahan dan ada tipe orang yang butuh teman-teman yang sholeh-solehah untuk memotivasi mereka menjadi pribadi yang lebih baik,, ini bulan ini,, saatnya kita semua move on, bertumbuh menjadi pribadi yang lebih bermartabat, lebih saleh, lebih mulia dan lebih beriman dan bertakwa. 

Eits ada satu lagi hampir kelewatan, saat kebiasaan berubah fisiologi tubuh pun berubah, dalam pandangan ilmu pemberdayaan diri NLP (Neuro-Linguistic Programming) ternyata fisiologi tubuh, state (mood) dan pikiran terkoneksi dalam satu sistem, dengan mengubah salah satunya akan merubah seluruhnya, sebagai contoh bisakah anda menangis sambil tertawa? Hah bisaaa?? Ciyusan? Ada yang error dalam system saraf anda kayanya, coba tes STIFIn dulu deh sama @RizalMuharam di pin:2633a5e0 heheh.. tetep promosi :p. kembali ke laptop, pernah merasa bad mood? Atau pernah liat orang lagi bad mood? Coba perhatiin bagaimana kondisi fisiologi mereka? Diantaranya: badan membungkuk, pandangan melihat kebawah tidak fokus, nafas pendek dan lambat, apalagi? Bisa bantu saya? Nada suara rendah dan mulut tertutup rapat, tertarik kebawah (boleh sambil peragaain) heheh.. ini serius supaya kita tahu bedanya even anda lagi happy sekarang coba lakukan eksperimen singkat ini, saya jamin tiba-tiba mood anda yang tadinya happy jd unhappy. Just do it deh.

Udah praktekin? Gimana perasaan anda? Bosen, BT? Nah dengan merubah keseluruhan fisiologi anda akan merubah mood dan pikiran anda. Sekali lagi yukk sama-sama saya mau ngajak sahabat semuanya untuk merubah kondisi fisiologi dengan merubah kebiasaan yang selama ini sudah menjadi rutinitas yang dirasa kurang produktif atau dalam bukunya kake @JamilAzzaini berjudul ‘ON’, menumbuhkan myelin-myelin baru atau memori dalam otot (kebiasaan yang mengkarakter) selama satu bulan penuh dibulan ini, mumpung ada lingkungan yang mendukung dan sudah ada niatan dalam diri, so tunggu apa lagi?. Saatnya kita Move On dibulan RomadhON, Mauuu?? Ingat! Kebiasaan akan membentuk karakter dan karakter akan menentukan NASIBmu. Semoga bermanfaat yah! Ingetin saya kalau saya lupa  terima kasih telah membaca. Salam SuksesMulia

Jumat, 05 Juli 2013

Menjadi SuperMOM

beni badaruzaman

Duh, ko aku mengantuk sekali yah? Padahal belum juga sampai waktu istirahat siang. Kemarin aku juga kesulitan mnghilangkan rasa kantu yang luar biasa seperti ini. Padahal biasanya cukup dengan tidur-tiduran di meja selama setengah jam, lalu diikuti makan siang dan sholat, maka aku akan segar kembali. Tapi beberapa hari terakhir ini rasa kantuk ini tidak bisa  hilang. Bahkan setelah waktu istirahat siang berakhir, aku masih saja menguap. Tidak enak juga rasanya bila rekan-rekan kantor menilai aku tidak semangat kerja. Mudah-mudahan mereka bisa mengerti bahwa aku sungguh-sungguh profesional, tapi..... hoooaahhmmmmm 
Begitulah salah satu warna hari-hari saya beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu, saya adalah seorang ibu yang baru saja memutuskan untuk kembali bekerja sehabis melahirkan. Saya memutuskan untuk kembali bergelut dengan dinamika hidup profesional, setelah sebelumnya berhenti bekerja demi memaksimalkan usaha memiliki momongan. Begitu bahagianya ketika Tuhan mengkaruniai saya seorang anak, dan kebahagiaan ini memberikan semangat lebih ketika memutuskan untuk kembali bekerja karena sekarang ada seorang anak yang memotivasi saya. Sebelum melangkah lebih jauh, pertama-tama saya ingin berbagi beberapa hal yang mendorong saya untuk menjadi seorang ibu yang bekerja. Mudah-mudahan hal-hal berikut juga bisa menyemangati Anda yang masih ragu untuk mengambil langkah serupa:

1. Finansial

Ibu yang bekerja jelas akan menambah pemasukan keluarga. Dengan sokongan finansial yang lebih baik, keluarga dapat menikmati kualitas hidup yang juga lebih baik. Keluarga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan penting seperti gizi yang cukup, pendidikan yang baik, dan tempat tinggal serta pakaian yang layak. Selain itu, keluarga juga mampu memenuhi kebutuhan pelengkap seperti hiburan dan fasilitas kesehatan yang memadai.

2. Relasi dengan suami

Wanita bekerja cenderung memiliki wawasan yang luas, pola pikir yang terbuka, dan sikap yang dinamis. Hal ini dapat menunjang relasi yang sehat dan positif dengan suami. Sebagai istri, seorang wanita bekerja bisa dijadikan partner bertukar pikiran untuk saling membagi harapan dan pandangan. Dengan demikian, suami tidak merasa sendirian dalam memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

3. Relasi dengan anak

Masih terkait dengan kecenderungan wanita bekerja yang berwawasan luas, hal ini nantinya juga akan menjadi keuntungan ibu dalam membimbing perkembangan sang anak. Memasuki usia sekolah, tentu anak akan memiliki banyak pertanyaan yang menuntut wawasan luas ibu agar dapat memberi jawaban memuaskan. Sedangkan ketika menginjak usia remaja dan dewasa, anak akan lebih bisa menerima ibu yang memiliki pola pikir terbuka dan dinamis sehingga anak tidak takut membagi masalah kesehariannya dengan ibu.

4. Kebutuhan sosial

Para ibu juga manusia biasa yang mempunyai kebutuhan untuk menjalin relasi sosial dengan orang lain. Dalam dunia bekerja, ibu akan memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan rekan dan relasi sehingga akan banyak pula kesempatan untuk membina hubungan sosial. Ibu bisa saling berbagi perasaan, pandangan dan solusi mengenai berbagai hal.

5. Harga diri dan identitas

Bekerja memungkinkan wanita mengekspresikan dirinya dengan cara yang produktif dan kreatif. Dengan bekerja, wanita berusaha menemukan arti dan identitas dirinya melalui penyaluran potensi-potensi yang dimiliki. Di samping itu, wanita bekerja juga dituntut senantiasa meningkatkan ketrampilan dan kompetensi yang ia miliki untuk bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan pekerjaan. Pencapaian tersebut pada akhirnya akan mendatangkan rasa percaya diri dan kebahagiaan baik sebagai wanita, maupun sebagai karyawan.

Meskipun banyak keuntungan yang bisa diraih, ternyata menjalani peran ganda sebagai seorang ibu dan karyawati dalam waktu yang bersamaan tidaklah semudah yang saya kira. Peran sebagai ibu sekaligus ibu rumah tangga di rumah sering kali mempengaruhi kinerja saya di kantor. Begitu juga sebaliknya, kesibukan profesional di kantor juga tak jarang menghambat saya untuk menjadi ibu rumah tangga yang ideal. Kalau dipikir-pikir, pergelutan peran antara ibu rumah tangga dan wanita karier ini terasa seperti lingkaran setan. Masalah kedua peran ini saling bertautan erat, tanpa tahu harus mulai dari mana untuk memperbaikinya. Sepertinya manusia biasa tidak akan mampu menjalani dua peran ini secara gemilang. Dibutuhkan sebuah ilmu super ... untuk menjadi SUPERMOM!

Langkah awal untuk menjadi seorang supermom adalah mencari referensi sebanyak-banyaknya mengenai tips yang dapat membantu menjalani keseharian ibu bekerja. Referensi bisa didapat melalui buku, artikel, atau seminar-seminar. Kalau dari pengalaman pribadi saya, yang paling membantu justru adalah referensi dari teman-teman yang sudah terlebih dahulu menjalani kehidupan ibu bekerja. Dari mereka, saya memperoleh sejumlah tips berharga mengenai cara mensiasati peran ganda ini. Ya, MENSIASATI, karena langkah selanjutnya dalam menjadi supermom adalah menetapkan tujuan yaitu meminimalisir (bukan meniadakan) konflik yang bisa timbul dari usaha menjalankan dua peran sekaligus. Meminimalisir di sini berarti para ibu bekerja perlu sadar bahwa tidak selamanya kita akan berhasil melakukan dua hal dalam satu waktu. Para ibu bekerja harus berani menerima kenyataan bahwa akan ada saat dimana mereka kurang berhasil dalam urusan rumah tangga, dan suatu ketika kurang berhasil dalam urusan pekerjaan. Oleh karena itu, ibu bekerja sebaiknya berbesar hati menerima bahwa untuk mengambil langkah sebagai ibu bekerja saja sudah merupakan kebanggaan tersendiri. Maka tidak perlu berusaha mati-matian untuk menjadi ibu bekerja yang sempurna. Alih-alih menjadi sempurna, bukan tidak mungkin kesehatan fisik (dan mental) menjadi korban sehingga ibu bekerja justru menjadi beban bagi keluarga.

Nah, sebagai langkah selanjutnya, berikut saya utarakan beberapa hal yang mempermudah usaha saya menjadi supermom. Hal-hal berikut saya kumpulkan dari berbagai sumber, juga dari pengalaman rekan-rekan supermom lain.

1. Jadikan suami sebagai partner

Dalam biduk rumah tangga, dibutuhkan kerja sama yang baik antara suami dan istri. Ibaratnya, suami dan istri seperti kaki kanan dan kiri yang bekerja sama untuk saling memudahkan langkah maju ke depan. Begitu juga dengan keputusan untuk menjadi ibu bekerja. Seperti yang telah dibahas, menjadi ibu bekerja jelas dapat meningkatkan kualitas hidup keluarga. Oleh karena itu, sebagai bentuk penghargaan terhadap usaha istri, sudah sepantasnya suami ikut membantu istri dalam menjalani peran gandanya. Komunikasikan baik-baik dengan suami mengenai hal-hal yang dapat ia lakukan untuk membantu Anda. Mulai dari hal-hal teknis seperti membagi jadwal bergadang menemani si kecil tidur, menyiapkan sarapan atau makan malam, membawa si kecil cek kesehatan rutin ke dokter, dan sebagainya. Anda juga bisa berbagi dengan suami mendiskusikan hal-hal dilematis seperti misalnya ketika Anda harus dinas ke luar kota.

2. Beri suami kesempatan

Masih terkait dengan melibatkan suami sebagai partner. Terkadang para ibu memiliki penilaian bahwa suami tidak akan mampu mengurus hal-hal rumah tangga. Memang sulit untuk menghapus nilai yang sudah tertanam bahwa “perempuan yang paling tahu urusan dapur”. Apalagi jika menyangkut urusan si kecil. Tanpa sadar ibu terkadang menilai ayah tidak setrampil dirinya dalam memahami dan memenuhi kebutuhan bayi. Sebenarnya, ada banyak hal yang bisa ibu ajarkan kepada ayah sehingga ibu bisa tenang mendelegasikan tugas-tugasnya. Contohnya, ibu bisa mengajarkan kepada ayah bagaimana cara mengganti popok basah dengan benar. Dengan demikian, di waktu-waktu tertentu ibu bisa beristirahat karena tugas mengganti popok sudah bisa dilakukan ayah. Selain itu, ayah juga akan mengalami kebahagiaan tersendiri karena merasa ikut terlibat dalam perkembangan si kecil.

3. Realistis – cari bantuan

Menjadi supermom sekali lagi bukan berarti menjadi seorang ibu dengan kekuatan super, yang mampu mengerjakan semua hal sendiri. Ibu bekerja harus realistis dan tidak bermimpi menjadi wanita super karena pasti akan ada saat-saat dimana ibu membutuhkan bantuan pihak lain. Misalkan saja ketika anak memasuki usia sekolah. Mungkin ibu (dan ayah) akan kesulitan mengantar si kecil ke sekolah setiap pagi karena pada saat yang bersamaan juga harus berangkat ke kantor yang tidak searah dengan sekolah anak. Nah, pada saat seperti ini, wajib hukumnya untuk meminta bantuan pihak lain. Mungkin si mbok di rumah, atau jasa angkutan antar-jemput khusus dari sekolah. Untuk hal-hal lain, ibu juga harus jeli memilih pihak yang akan dimintakan pertolongan. Prioritaskan mencari bantuan dari keluarga terdekat, atau tetangga yang sudah dikenal baik. Ini berarti ibu bekerja juga harus pintar-pintar menjalin hubungan baik dengan keluarga dekat maupun tetangga, karena bisa saja sewaktu-waktu bantuan mereka dibutuhkan.

4. Jangan merasa bersalah

Sadari bahwa keputusan untuk bekerja adalah pilihan yang diputuskan sendiri. Bila terjadi sesuatu, jangan sesali keputusan yang telah dibuat. Itu hanya akan membuat ibu bekerja terperosok dalam kondisi emosi yang negatif. Pikirkan bahwa setiap keputusan memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing. Walaupun menjadi ibu bekerja terkadang merepotkan, tapi tentu ada banyak keuntungan lain yang bisa dinikmati keluarga. Oleh karena itu, tidak ada gunanya merasa bersalah karena telah “meninggalkan keluarga”. Sebenarnya, langkah Anda menjadi ibu bekerja justru merupakan bentuk tanggung jawab Anda pada keluarga.

5. Waktu untuk “SAYA”

Ini dia yang sering terlupakan oleh banyak ibu bekerja. Saking sibuknya membelah diri antara menjadi ibu rumah tangga dan wanita karier, seringkali para ibu bekerja mengesampingkan jauh-jauh beberapa hal yang sebenarnya penting bagi keseimbangan mentalnya. Begitu tenggelamnya ibu bekerja di dalam lautan kewajiban, sehingga ia lupa bahwa sesungguhnya ia juga punya hak untuk bersenang-senang. Dalam hal ini, seorang ibu bekerja tidak boleh lupa melakukan refreshing untuk diri sendiri. Luangkan waktu melakukan hal-hal yang bisa kembali membuat Anda merasa rileks, misalnya ke salon, jalan-jalan ke mall, atau sekedar membaca buku novel romantis. Kegiatan semacam ini bukan merupakan aksi egois, malah justru perilaku yang dilakukan demi kemaslahatan orang banyak. Jika ibu bekerja bisa tetap merasa bahagia, maka orang-orang di sekitarnya juga bahagia kan?

6. Waktu untuk suami

Meski sibuk bekerja dan mengurusi anak, jangan sampai suami Anda terlupakan. Banyak riset tentang perceraian mengungkap bahwa “perasaan ditinggalkan” merupakan salah satu faktor penting yang mendorong suami-suami untuk bercerai dari istrinya. Jangan sampai suami berpikiran bahwa ia hanya duduk di urutan kesekian, setelah urusan karier dan anak. Ingat, suami Anda adalah partner. Partner anda juga butuh perhatian lho. Ada beberapa aktivitas yang bisa Anda lakukan dengan suami, misalnya nonton teve/bioskop, makan siang atau makan malam berdua. Anda juga bisa saling menelepon atau mengirim SMS saat bekerja. Agar sukses berduaan dengan suami di rumah, sebaiknya tidurkan dulu si kecil. Dengan begitu, Anda berdua bisa lebih leluasa ngobrol atau berhubungan intim.

7. Pantang menyerah

Pada awalnya, besar kemungkinan ibu bekerja akan merasa keteteran dengan banyaknya hal yang harus dilakukan bersamaan. Mungkin ada kalanya ibu bekerja merasa tidak mampu dan putus asa. Tidak sedikit ibu bekerja yang hanya tahan beberapa bulan saja menjalani kedua perannya tersebut. Hal ini sebaiknya dihindari karena pada umumnya sebuah peralihan memang akan sedikit banyak menguras energi untuk mampu beradaptasi dengan baik. Namun jika mau sedikit bersabar, lambat laun biasanya akan ditemukan cara-cara untuk bermain lebih cantik lagi. Oleh karena itu, ibu bekerja sebaiknya menyemangati diri sendiri bahwa menjadi ibu bekerja merupakan hal yang bisa dilalui dengan baik. Pelan-pelan dan tidak lupa untuk belajar dari pengalaman, meniti jalan menuju menjadi supermom yang sesungguhnya.

Wah wah wah... ternyata banyak juga ya hal-hal yang bisa membantu Anda menjadi supermom? Mudah-mudahan pengalaman pribadi saya ini bisa menyemangati Anda yang masih ditengah-tengah proses perubahan diri dari ibu rumah tangga biasa menjadi ibu bekerja yang luar biasa. Dengan penuh percaya diri sekarang saya bisa mengatakan bahwa menjadi supermom merupakan hal yang sangat berharga bagi saya. Dan saya yakin, kebanggaan saya terhadap hal ini akan memberikan atmosfir positif bagi keluarga. Jadi tunggu apa lagi? segera kenakan kostum Anda dan bertransformasilah!

Septiana Runikasar (lptui.com)

Senin, 24 Juni 2013

Tahun Ajaran Baru: Ajang Penyesuaian Diri Bagi Anak dan Orang Tua

beni badaruzaman

Berbagai pusat keramaian dan tempat-tempat rekreasi belakangan ini dipadati para orang tua dan anak sekolah yang sedang menikmati liburan. Ada kelegaan dan keceriaan menghiasi wajah anak-anak sekolah tersebut setelah ulangan dan ujian akhir usai. Mereka layak untuk menikmati liburan ini dan besar harapan dari para orang tua agar anak sekolah mendapatkan pengalaman yang unik dan berharga.

Selama beberapa hari, anak-anak terbebas dari aktivitas sekolah, tugas, ulangan, ujian, bahkan sampai aktivitas rutin bangun pagi. Liburan memang layak diidamkan oleh anak sekolah termasuk orang tua. Sayangnya, masa-masa liburan tak akan lama dan harus berakhir. Menjelang masuk sekolah, anak dan orang tua juga akan memenuhi toko buku dan toko pakaian yang menjual kelengkapan sekolah. Segala materi dan atribut sekolah seperti buku pelajaran, alat tulis, seragam sekolah, tas sekolah sampai pernak-pernik seperti ikat rambut dan kaos kaki menjadi incaran anak dan orang tua. Bahkan, orang tua harus mengambil cuti (bagi orang tua yang bekerja full time) untuk menyempatkan pergi belanja. Inilah salah satu ritual memasuki tahun ajaran baru. Selain itu, bagi anak-anak yang lulus jenjang pendidikan tertentu (misal lulus SD), orang tuanya sudah pasti harus sibuk pula mengurus pendaftaran dan memenuhi administrasi jenjang pendidikan selanjutnya. Berbagai kesibukan memenuhi hari-hari setelah berlibur.

Kisah pun kemudian terus berlanjut. Setelah kebutuhan materi terpenuhi, menjelang periode masuk sekolah, orang tua mulai duduk di kursi arogannya dengan memberikan berbagai wejangan atau nasihat kepada anaknya. Beberapa nasihat yang klise terlontar:
“Kalo sudah kelas 5 berarti harus lebih rajin lho!”
“Kamu sudah semakin besar, sudah SMP.  Jadi harus mandiri ya, jangan bangun siang lagi!”
“Kamu kan sudah masuk SMA, berarti harus tahu tanggung jawabnya ya! Jangan banyak main sama baca novel aja. Nanti kalau nggak lulus, gimana?!”
Orang tua juga mulai membeberkan berbagai tugas-tugas tambahan untuk mereka.  Orang tua mulai menuntut agar anaknya melakukan hal-hal yang lebih positif sehubungan dengan peningkatan jenjang pendidikan dan kelas anak. Tanpa disadari, orang tua berbicara hanya satu arah tanpa mempertimbangkan tanggapan anak dan kondisi baru yang akan anak hadapi nanti setelah masuk sekolah lagi.

Banyak orang tua sudah puas ketika telah memenuhi kebutuhan sekolah anaknya berupa materi. Bagi orang tua, tanggung jawabnya cukup sampai di situ. Kalaupun ada tambahan, orang tua merasa bertanggung jawab untuk menasihati anaknya agar siap memasuki tahun ajaran baru. Dalam hal ini, tuntutan penyesuaian diri dianggap hanya ada di pihak anak saja. Sudut pandang bahwa penyesuaian diri perlu dilakukan oleh berbagai pihak, kurang dipikirkan orang tua.

Ketika anak memasuki tahun ajaran baru, sesungguhnya anak akan dihadapkan pada berbagai kondisi baru. Anak akan berhadapan dengan teman-teman baru dalam satu kelas, berhadapan dengan guru-guru baru, tuntutan materi pelajaran yang semakin kompleks, perubahan waktu belajar dan istirahat di sekolah, termasuk mungkin perubahan jam berangkat sekolah. Perubahan-perubahan seperti tersebut di atas akan lebih terasa oleh mereka yang memasuki sekolah baru atau naik jenjang yang lebih tinggi, misalnya lulus SD lalu masuk SMP dan seterusnya. Perubahan-perubahan yang terjadi kadang kurang disadari oleh anak dan orang tua. Kalaupun disadari, belum semua orang tua mempersiapkan anaknya untuk nyaman dan siap menjalani perubahan yang ada.

Perubahan menuntut penyesuaian diri

Saat anak memasuki kondisi sekolah yang baru maka anak dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Menyesuaikan diri di sini bukan berarti anak berubah “menjadi” seperti tuntutan lingkungannya. Hal yang diharapkan adalah anak dapat memadukan potensi dan kondisi internal dirinya dengan lingkungan tempat ia berinteraksi. Sekecil apapun perubahan yang terjadi, penyesuaian diri tetap perlu dilakukan agar anak dapat tampil optimal. Misalnya, anak sangat terbiasa dengan cara guru “X” mengajar, maka dengan cara tersebut ia dapat optimal mencerap materi pelajaran. Kenyataannya, saat ia naik kelas, ia mendapatkan  guru yang mungkin berbeda cara pengajaranya dengan guru di kelas sebelumnya, hal ini tentu mempengaruhi sikap belajar anak. Bisa saja anak menjadi tidak tertarik untuk mempelajari materi tersebut dan menjadi malas ke sekolah. Fenomena ini wajar dan mungkin terjadi pada anak sekolah di kelasnya yang baru. Melihat kondisi seperti ini, anak dituntut untuk melakukan suatu penyesuaian untuk mengikuti cara guru mengajar. Pertanyaannya sekarang, apakah penyesuaian diri hanya perlu dilakukan anak?

Anak Menyesuaikan Diri, Orang Tua Juga

Melihat contoh di atas, orang tua dapat berpikir lebih lanjut bahwa saat anak malas ke sekolah dan malas belajar, toh orang tua juga tidak dapat tinggal diam. Orang tua akan mencari cara dan membantu mendampingi anak untuk menghadapi perubahan belajar tersebut. Misalnya di tahun ajaran yang lalu, orang tua tidak pusing atau repot memikirkan anaknya belajar, akan tetapi di tahun ajaran baru sekarang, orang tua disibukkan oleh anaknya yang malas belajar. Kondisi ini menyadarkan orang tua bahwa penyesuaian diri bukan hanya dilakukan oleh anak tapi juga orang tua. Contoh lain, saat di tahun ajaran lalu, anak sekolah pagi yang dimulai pukul 07.00. Ternyata, di tahun ajaran ini, anak harus masuk siang sehingga orang tua perlu mengubah jadual mengantar anak ke sekolah disesuaikan dengan aktivitas orang tua. Selain itu, ada juga perubahan jam belajar di rumah, perubahan jam istirahat dan makan sehingga waktu aktivitas orang tua juga perlu penyesuaian. Hal kecil ini sering terjadi namun kadang kurang disadari orang tua bahwa penyesuaian diri anak adalah termasuk penyesuaian orang tua juga, hanya saja mungkin dengan cara-cara yang berbeda.

Mendampingi anak dalam proses penyesuaian diri

Pengenalan karakter anak

Ketika orang tua menyadari bahwa anak dan orang tua perlu penyesuaian diri saat memasuki tahun ajaran baru, maka di siitulah orang tua belajar lebih memahami karakter anak. Penyesuaian diri anak yang satu tentu berbeda dengan anak lainnya. Pengalaman anak sulung yang mengalami kendala ketika diajari oleh guru “X” bisa saja tidak dialami anak kedua yang diajar guru yang sama. Pemahaman orang tua terhadap keunikan karakter dari anak yang satu dengan lainnya akan membantu pendampingan anak dalam menyesuaikan diri. Pada contoh kasus, orang tua hendaknya jangan menyamaratakan pandangannya dari anak sulung ke anak yang lain. Hendaknya orang tua memahami karakter sulung dan adiknya berbeda sehingga orang tua lebih siap mendampingi si adik. Akan lebih mudah bagi orang tua mendampingi anaknya jika orang tua mengenal betul karakter anaknya.

Kami dari Rumah STIFIn Banten siap membantu mengidentifikasi Karakter dari setiap Anak-anak Anda secara GENETIS. Cukup dengan 1 (satu) kali tes seumur hidup dan hasilnya pun tidak akan berubah sampai kapanpun.

Dengan melakukan Scan 10 Sidik jari, maka hasilnya akan tergambar belahan otak sebelah mana yang dominan yang sering dipakai. Nah, itulah karakter anak-anak Anda. Lakukan penggemblengan dengan kelebihannya tersebut.

Hubungan baik dan komunikasi yang mendukung

Hal lain yang menjadi penting adalah hubungan anak dan orang tua serta komunikasi yang terjadi di antara mereka. Hubungan orang tua yang hangat dengan anaknya akan memudahkan orang tua dalam mendampingi anak menyesuaikan diri. Orang tua menjadi lebih mudah menggali hal-hal yang menghambat anaknya saat penyesuaian diri dan si anak akan lebih terbuka pada orang tua. Saat terjalin hubungan baik dan komunikasi yang lancar maka proses diskusi dan cara penyelesaian suatu masalah dapat berjalan lancar. Misalnya, saat jam masuk sekolah berubah, maka orang tua dapat berdiskusi dengan anak tentang siapa yang akan menjemput anak lalu anak akan mengemukakan pendapatnya. Contoh lain, saat anak murung di rumah setelah pulang sekolah, orang tua bisa menanyakan apa penyebabnya. Dengan keterbukaan dan komunikasi yang lancar maka anak akan menceritakan mengapa murung, lalu bersama-sama berdiskusi untuk mencari solusinya.

Cara berdiskusi jika sudah diketahui Mesin kecerdasannya, maka akan lebih mudah dan terarah, maka itu harus terlebih dahulu diketahui Mesin Kecerdasannya dengan melakukan Tes Mesin Kecerdasan STIFIn.

Bersama-sama menyesuaikan diri

Menyadari bahwa anak adalah bagian dari kehidupan orang tua dan orang tua punya kendali pada anak, maka perlu disadari bahwa penyesuaian diri anak adalah juga penyesuaian diri orang tua. Ada tipe orang tua yang menyadari bahwa dirinya juga perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak yang memasuki tahun ajaran baru. Di sisi lain ada juga orang tua yang tidak terpikir bahwa anak membutuhkan bantuan orang tua dalam menghadapi perubahan yang ada di tahun ajaran baru. Pilihannya ada di tangan orang tua. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kesadaran akan perlunya penyesuaian diri yang baik dapat membantu anak dan orang tua menjalani hari-harinya penuh bahagia tanpa beban.

Penyesuaian diri disini adalah, Lingkungan yang selalu berubah harus disesuaikan dengan setiap Mesin Kecerdasan Setiap Anak. Ingat setiap Mesin Kecerdasan mempunyai lingkungan sendiri-sendiri yang betul-betul KLIK. STIFIn sudah mengindentifikasi masing-masing lingkungan yang cocok dengan Mesin Kecerdasan.

Selamat memasuki tahun ajaran baru, selamat menyesuaikan diri.
(sumber lptui.com) 

Jumat, 14 Juni 2013

Ayo Sekolah di Sekolah yang Tepat !

beni badaruzaman

Tanpa terasa sebentar lagi kita akan memasuki pertengahan tahun 2013. Bagi kebanyakan orang tua yang memiliki anak usia sekolah, pertengahan tahun merupakan masa yang cukup merepotkan karena di bulan Juni-Juli orang tua harus mengerahkan biaya dan perhatian untuk urusan sekolah. Mulai dari menyisihkan dana untuk biaya baju seragam, buku-buku, uang pangkal masuk sekolah baru, hingga memberikan perhatian khusus bagi anak untuk membantunya menyesuaikan diri di lingkungan sekolah.

Bicara soal pendidikan, hampir semua orang ingin menempuh pendidikan setinggi dan sebaik mungkin. Oleh sebab itu, orang tua jaman sekarang sudah jauh-jauh hari menyiapkan dana pendidikan anak. Kalaupun dana sadah tersedia, masalahnya sekarang adalah menentukan pilihan sekolah. Sekolah mana yang tepat?
Apakah sekolah dengan ruang kelas ber-AC?
Sekolah yang memiliki fasilitas laboratorium lengkap?
Sekolah yang dekat rumah?
Sekolah yang populer?
Atau sekolah yang berbasis agama?
Banyaknya jenis sekolah memang menjadi dilema tersendiri bagi kita sebagai orang tua yang menginginkan hal terbaik untuk anak. Terlebih lagi jika mendengar rumor tentang sisi negatif suatu sekolah seperti:
“Ah, di sekolah itu kan banyak siswanya yang narkoba.”
“Ah, sekolah itu kan gurunya kurang berkualitas.”
“Sekolah itu kan fasilitasnya minim sekali.” ... atau,
“Sekolah itu kuno sistem pengajarannya.”
Keragu-keraguan seperti ini yang membuat orang tua merasa sangat bingung, walaupun dana sudah mencukupi.

Melalui pengalamannya selama belasan tahun di bidang konsultasi edukasi, LPTUI menilai perlu sekali orang tua memailiki pemahaman memadai tentang pemilihan sekolah yang tepat untuk anak. Sekarang, mari kita luruskan dahulu beberapa anggapan keliru tentang sekolah yang selama ini berkembang di masyarakat. Harapannya, dengan memahami informasi yang benar, orang tua akan terbantu memilih sekolah yang paling tepat untuk anak mereka.

Sekolah Unggulan

Menurut Pemerintah, sekolah unggulan adalah sekolah dengan rata-rata NUAN (dulu NEM) yang bagus. Pengertian “bagus” ini belum dirumuskan dengan jelas dan tidak ada nilai baku yang terstandar karena nilai NUAN selalu berubah setiap tahun. Artinya, bisa saja rata-rata NUAN sebuah sekolah terlihat tinggi karena secara kebetulan ada siswa-siswa tertentu di sekolah tersebut yang sangat cerdas sehingga nilai NUAN mereka mampu mengangkat rata-rata nilai NUAN sekolahnya. Unggulan juga ternyata bukan dipandang dari metode pengajaran yang bagus, kualitas guru yang bagus, atau bahkan fasilitas sekolah. Jadi, orang tua harus waspada untuk tidak mudah tergiur semata-mata karena label ”unggulan”. Lihat kembali, apakah sekolah itu memiliki kualitas guru yang bagus dan fasilitas yang memadai.

Mitos Sekolah Negeri

Anggapan yang paling umum mengenai sekolah negeri adalah bahwa biayanya murah dan memiliki fasilitas yang lengkap. Dulu, memang sekolah negeri mematok biaya yang relatif lebih rendah dibanding sekolah swasta. Saat ini, ada juga sekolah negeri yang menarik biaya cukup mahal. Biasanya ini karena sekolah tersebut telah mendapat label sebagai bernai mematok biaya hampir sama dengan sekolah swasta. Mengenai fasilitas, dulu setiap sekolah negeri memang bisa bergantung pada subsidi pemerintah. Saat ini, subsidi pemerintah tidak lagi mencukupi kebutuhan fasilitas sekolah sehingga sekolah perlu mencari dana lain untuk menyediakan fasilitas yang diperlukan. Hal inilah yang pada akhirnya meningkatkan biaya bulanan bersekolah di sekolah negeri. Anggapan lain tentang sekolah negeri adalah bahwa lulusannya bermutu karena metode pengajarannya bermutu. Hal ini pun belum tentu benar karena unggulnya metode pengajaran baru terasa jika didukung oleh fasilitas serta guru-guru yang berkualitas. Oleh karena itu, pelajari juga riwayat sekolah dan cari tahu kualitas guru dan sarana sekolahnya.

Mitos Sekolah Swasta

Masih ada anggapan bahwa sekolah swasta adalah “sekolah buangan” yaitu sekolah yang siswanya memiliki NUAN buruk sehingga tidak diterima di sekolah negeri. Kenyatannya, banyak sekolah swasta yang bermutu baik. Hal ini terbukti dari banyaknya lulusan sekolah swasta yang juga sanggup meraih NUAN tinggi. Kita juga mengenal sekolah swasta yang berbasis agama (sekolah Katolik, Kristen, atau Islam misalnya). Sekolah berbasis agama tentu saja ikut menitikberatkan pendidikan agama. Akhirnya muncul mitos bahwa sekolah seperti itu cenderung “kolot” atau “kaku” karena banyak aturan-aturan yang ketat. Adapula yang beranggapan bahwa sekolah berbasis agama banyak yang identik dengan suku bangsa tetentu. Seperti sekolah Katolik dan Kristen banyak didominasi oleh etnis Tionghoa, sedangkan sekolah Islam mayoritas siswanya pribumi atau Arab. Sekolah swasta juga dikenal menarik biaya yang mahal. Bijaklah menyikapi persepsi ini. Ada sekolah swasta yang bisa memberi keringanan bagi siswa yang kurang mampu. Disiplin sekolah swasta di satu sisi juga bisa memberi manfaat bagi anak untuk belajar bertanggung jawab. Sedangkan terkait dengan dominasi etnis tertentu, di saat bangsa kita mesti membangun kebhinekaan, tentunya kurang bijak kalau kita justru menghindarkan anak kita dari pembauran. Sepanjang mutu sekolah memang bagus, anak kita tetap akan menerima proses pembelajaran yang terbaik bukan? Bahkan mungkin ia juga akan belajar beradaptasi dengan etnis lain, sebuah pelajaran yang mungkin tidak diterima siswa di sekolah lain.

Sekolah Nasional Plus

Dewasa ini, status sekolah Nasional Plus sedang menjamur. Di jalan-jalan terpampang iklan-iklan yang menjual kehebatan sekolah Nasional Plus. Sekolah ini biasanya berkolaborasi dengan lembaga pendidikan luar negeri seperti dari Singapura, Malaysia, atau Australia. Bahasa Inggris yang dipandang sebagai bahasa keren bagi banyak orang tua membuat sekolah Nasional Plus menjadi incaran karena menggunakan metode pengajaran bilingual (dua bahasa: Indonesia dan Inggris). Selain itu, sekolah ini juga menjual keunggulan berupa fasilitas yang lengkap dan mewah, diantaranya laboratorium bahasa yang canggih, serta fasilitas olah raga dan ekstrakurikuler yang bergengsi seperti berkuda, golf, tennis, orkestra, atau berenang di kolam renang sekolah, dan lainnya. Sekolah ini kadangkala mengandalkan fasilitas dan lisensi metode pengajaran luar negeri serta gedung mewah. Hal ini membuat para orang tua tergiur dan beranggapan bahwa sekolah mahal adalah sekolah bagus. Benarkah demikian? Sekali lagi, orang tua perlu meneliti lebih jauh. Walaupun didukung dengan fasilitas yang sangat memadai, jika sekolah Nasional Plus tidak memiliki jajaran pengajar yang berpengalaman, maka julukan ”sekolah yang bermutu” masih belum layak disandang oleh sekolah ini.

Wah, memilih sekolah di jaman sekarang memang tidak mudah ya. Cukup memusingkan dan menjadi beban bagi orang tua. Berikut ini beberapa patokan atau standar yang dapat digunakan dalam memilih sekolah. Patokan atau standar seperti ini dapat disepakati orang tua dan anak (jika anak sudah mampu mengenal potensinya) dalam memilih sekolah yang paling tepat.

Sekolah yang TEPAT, mengandung arti sekolah tersebut dapat mengakomodir aktualisasi potensi anak. Oleh karena itu,

  • Jika kemampuan anak tergolong kurang, jangan dipaksakan masuk ke sekolah yang kompetisi akademiknya sangat keras karena akan membuat anak terbebani, minder, dan akhirnya merasa lebih bodoh dari apa yang mestinya masih bisa ia tampilkan.
  • Sesuaikan pemilihan sekolah dengan minat anak. Cari informasi tentang ekstrakurikuler yang tersedia, apakah dapat mendukung minat anak, misalnya di bidang seni atau olah raga. Selain berpeluang mengembangkan bakat anak, juga dapat membantu membuat anak menyukai sekolah. (Kenali bakat bakat bawaat anak dengan TES STIFIn)
  • Bagi anak yang sudah menginjak remaja, perlu ada dialog antara orang tua dan anak mengenai minat dan keinginan anak. Hal ini untuk mengantisipasi timbulnya alasan “Aku malas sekolah karena ini bukan sekolah pilihanku”. Ikut sertakan anak dalam mencari informasi dan membahas mutu sekolah.
  • Bagi anak yang masih kecil yang akan memasuki Play Group, TK, atau SD, maka orang tua perlu melihat program pengajaran yang ditawarkan sekolah, apakah sesuai dengan kesiapan belajar anak. Misalnya metode pengajaran bilingual, apakah anak sudah cukup menguasai bahasa utamanya sehingga siap untuk belajar bahasa kedua? Apakah orang tua bisa mendukung anak di rumah untuk berlatih bahasa kedua? Juga tentang nilai-nilai moral dan sosial, apakah metode pengajaran sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua? Misalnya saja perlukah anak bersekolah di sekolah yang berbasis agama?
  • Kalau anak yang memiliki kebutuhan khusus misalnya hiperaktif atau ada gangguan motorik, jangan paksakan anak bersekolah di sekolah dengan banyak siswa dalam satu kelas meskipun sekolah itu sangat baik di mata orang tua. Anak-anak seperti ini membutuhkan penanganan khusus agar ia dapat berkembang optimal. Carilah sekolah yang menyediakan fasilitas terapis atau paling tidak school buddy sehingga perkembangan anak di sekolah dapat terpantau dan terfasilitasi dengan baik.
  • Fasilitas yang menggiurkan juga belum tentu menjawab kebutuhan anak. Meskipun fasilitas lengkap dapat menunjang anak untuk lebih mudah belajar, namun jika tidak didukung oleh kualitas guru yang baik dalam arti mampu memahami karakteristik anak, maka fasilitas pun akan kurang berperan.

Semua sekolah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga membutuhkan waktu bagi orang tua untuk mempertimbangkan sekolah mana yang unsur positifnya paling banyak. Langkah pertama adalah pahami anak anda sedalam mungkin untuk membantunya menemukan sekolah yang paling tepat. Ingat, sekolah yang baik menurut orang tua belum tentu merupakan sekolah yang paling tepat bagi anak. Kedua, carilah informasi tentang sekolah-sekolah yang menjadi alternatif pilihan. Hadirlah jika ada sesi open-house, ajak guru-gurunya mengobrol di luar acara formal untuk mengetahui pengalaman mereka dalam mengajar dan minat mereka pada pengembangan anak. Carilah orang tua yang anaknya sudah cukup lama bersekolah di situ dan tanyakan kesan-kesan mereka. Sedapat mungkin, cari juga keterangan dari anak mereka yang merasakan langsung bersekolah di sana. Selain mutu pendidikan, tanyakan juga kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Berikutnya, barangkali Anda juga perlu mempertimbangkan hal-hal lain seperti unsur keselamatan dan aksesibilitas (mudah dijangkau kendaraan umum, ada telepon umum), kebersihan, dan sebagainya.

Semoga informasi ini dapat membantu Anda, sebab bentuk kasih sayang orang tua salah satunya tercermin dari kebijaksanaan orang tua saat memilih sekolah yang TEPAT bagi anak dan masa depannya. (Erfianne Cicilia Psikolog lpti.com)

Rumah STIFIn Banten siap membantu mengarahkan anak-anak Anda dalam pemilihan sekolah yang sesuai dengan Minat dan Bakat buah hati tercinta Anda menuju PRESTASI terbaiknya

Rabu, 12 Juni 2013

AKU Remaja Masa Kini

beni badaruzaman

Ujian nasional baru saja selesai dilaksanakan. Keluh kesah, jeritan-jeritan kecil mengenai sulitnya soal ujian nasional selalu terdengar setiap kali siswa-siswa kelas 3 SMP maupun SMA keluar ruang ujian.
"Padahal udah tiga kali gue ikutan try-out di bimbel loh!"
"Gue pasrah aja deh ngikutin bocoran yang dikirim sms semalem" 
Komentar-komentar seperti ini rasanya tidak asing lagi. Memang sudah menjadi pola yang umum dimana remaja sekarang cenderung mengambil jalan-jalan pintas dalam mencapai tujuannya. Untuk bisa lulus ujian nasional dengan nilai yang memuaskan, kebanyakan dari mereka lebih memilih mengikuti program bimbingan belajar intensif satu bulan sebelum ujian, daripada menyiapkan diri dengan tekun belajar sejak jauh hari di sekolah. Parahnya, tak sedikit pula yang mengambil jalan tol dengan mencari bocoran jawaban soal ujian. Kelompok yang ini bahkan rela merogoh saku dalam-dalam demi mendapatkan bocoran yang paling akurat.

Dari pengalaman melaksanakan tes penelusuran minat bakat, saya juga bisa menemukan pola yang serupa. Remaja yang sudah menduduki kelas akhir, baik di SMP maupun SMA, sering tidak tahu mau melanjutkan sekolah ke mana. Begitu pula ketika saya melakukan konseling karir bagi para lulusan perguruan tinggi. Masih banyak dari mereka yang merasa kurang yakin harus melanjutkan ke mana jika ingin kuliah lagi, atau memilih bidang kerja apa yang paling pas. Psikolog, ataupun hasil penelusuran minat dan bakat, menjadi tumpuan harapan mereka untuk mendapatkan pengarahan menyeluruh mengenai jalan hidup yang akan mereka tempuh. Tak jarang mereka bahkan bertanya ke psikolog mengenai universitas mana saja yang memiliki jurusan pendidikan yang mereka minati, atau perusahaan mana yang cukup bonafide sebagai tempat memulai karir. Sungguh mengecewakan kalau untuk informasi demikianpun mereka tetap harus disuapi.

Sikap-sikap seperti inilah yang menyebabkan remaja masa kini sering dikatakan sebagai generasi instan. Generasi yang maunya langsung bisa melakukan sesuatu, langsung dapat petunjuk dari orang lain, langsung bisa menikmati sesuatu tanpa harus berusaha keras untuk mendapatkannya. Seringkali saya berpikir, apa ya yang menyebabkan fenomena ini muncul? Kalau dikaji baik-baik, bukan sepenuhnya kesalahan si remaja bahwa mereka terbentuk menjadi generasi instan. Berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya memiliki andil dalam membentuk gaya atau sikap mereka yang demikian :

Pengaruh Globalisasi

Perubahan yang terjadi dalam lingkungan global dimana informasi dapat dengan sangat cepat diakses, membuat semuanya terlihat serba mudah. Berbagai bentuk gadget yang digandrungi remaja, komputer yang sudah digunakan sejak mereka berusia sangat muda, dan akses ke dunia global yang dapat dilakukan dalam hitungan detik, membuat impresi pada remaja bahwa seperti inilah seharusnya segala sesuatu berproses. Mereka secara otomatis memandang hal-hal yang membutuhkan proses lama sebagai hal yang memakan waktu, tidak praktis, dan merugikan.

Pengaruh Keluarga

Semakin tingginya tingkat pendidikan orang tua di dalam keluarga meningkatkan pula taraf kesejahteraan keluarga tersebut. Selain itu, orang tua juga cenderung tidak ingin anaknya ketinggalan jaman, gagap teknologi, atau  mengalami kesulitan seperti mereka dulu. Hal ini membuat orang tua dengan gampangnya mengabulkan permintaan anak, atau memfasilitasi anak-anaknya dengan beragam perlengkapan teknologi dan informasi yang belum tentu mereka butuhkan. Alhasil, anak-anak dimanjakan dengan segala kemudahan yang ada dan merasa tidak perlu melalui proses yang cukup lama untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Yang menyedihkan adalah remaja dari kalangan bawah dengan orang tua yang memiliki keterbatasan ekonomi. Remaja kalangan ini mulai banyak melakukan hal-hal melanggar norma demi dapat menyamai gaya hidup rekan-rekannya dari kalangan atas. Beberapa fenomena kriminal mulai dari pencurian oleh remaja, hingga remaja yang menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) jelas merupakan usaha instan untuk menyetarakan diri dengan remaja lain.

Pengaruh Institusi Pendidikan

Saat ini banyak sekolah yang hanya mengejar target kelulusan siswa karena hal tersebut akan mendongkrak nama sekolah. Hal ini juga berpengaruh pada sikap orang-orang yang terlibat dalam proses pendidikan formal. Sudah sangat jarang kita dengar ada guru yang menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dibanding sekedar nilai ujian yang tinggi. Kecenderungan cara mengajar guru sekarang adalah memberikan rumus-rumus singkat atau kisi-kisi materi ujian yang dapat membantu siswanya mengerjakan soal ujian secara mudah dan cepat. Metode pengajaran seperti ini tidak lagi mengajak siswa berusaha memahami pelajaran secara menyeluruh tetapi lebih fokus pada topik-topik yang diperkirakan akan keluar di ujian. Pada akhirnya, siswa pun enggan meluangkan waktu untuk mempelajari kembali keseluruhan materi pelajaran karena toh pada akhirnya guru maupun pihak bimbingan belajar akan memberikan ringkasan materi dalam format yang sudah rapi.

Melihat berbagai faktor di atas, tak heran remaja masa kini menjadi generasi yang instan. Rupanya banyak sekali kemudahan-kemudahan yang mereka temui di dalam kehidupannya. Sampai-sampai untuk menentukan langkah hidup pun mereka begitu saja menyerahkan diri kepada saran psikolog berdasarkan hasil penelusuran minat dan bakat. Padahal sebenarnya mereka juga dapat melakukan sendiri suatu proses yang dimulai dengan pengenalan potensi diri sendiri, bakat apa yang mereka miliki, dan hal-hal apa saja yang mereka sukai. Dengan menelaah hal-hal ini mereka dapat mencari sendiri informasi tentang bidang-bidang apa yang bisa mereka geluti di perguruan tinggi atau dalam pekerjaan.

Nah, untuk membantu proses pengenalan diri dan penetapan tujuan ini, ada sebuah konsep sederhana yang sangat bermanfaat yang disebut dengan Penetapan A-K-U (Ambisi – Kenyataan – Usaha). Melalui konsep ini, para remaja bisa mulai belajar menetapkan tujuan-tujuannya sendiri sesuai dengan keadaan dirinya saat ini. Tidak hanya itu, remaja juga bisa mulai merancang usaha-usaha apa saja yang perlu ia lakukan untuk bisa mencapai tujuannya tersebut.

Ambisi

Ambisi adalah segala sesuatu yang ingin dicapai seseorang. Untuk mengetahui Ambisinya, remaja harus melakukan analisis mengenai apa yang menjadi sasaran-sasarannya dalam hidup. Hal-hal apa saja yang ia anggap berarti, yang ingin ia raih di masa yang akan datang. Apakah ingin menjadi pengacara terkenal, ingin memiliki restoran keluarga, atau ingin menjadi perancang busana untuk butiknya sendiri. Yang penting, Ambisi yang ditetapkan harus mengikuti hukum SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound). Artinya, Ambisi yang hanya berupa “ingin jadi akuntan ngetop” saja tidaklah cukup. Ambisi tersebut perlu dipertajam lagi, misalnya “ingin menjadi akuntan yang tergabung dalam PriceWater House Cooper, dan setelah bekerja selama 2 tahun sudah bisa menangani top ten best companies di Indonesia”  Jangan lupa menyelaraskan satu ambisi dengan ambisi yang lain, juga pastikan ambisi-ambisi tersebut mungkin tercapai.

Kenyataan

Kenyataan yang dimaksud di sini adalah keadaan diri pribadi remaja. Karakteristik apa saja yang ia miliki, segala bentuk keterbatasan, keahlian, hobi, minat, dan lain lain. Selain itu, di dalam kenyataan ini juga termasuk keadaan-keadaan tertentu yang ada di sekitar remaja, misalnya keadaan sosial ekonomi keluarga, jumlah saudara kandung, koneksi-koneksi sosial yang dimiliki, dan sebagainya. Untuk mempermudah, kenyataan diri ini dapat disusun menjadi dua bagian besar. Yaitu kenyataan-kenyataan yang sifatnya membantu pencapaian ambisi, dan kenyataan yang berkemungkinan menghambat pencapaian ambisi.

Usaha

Setelah merumuskan Ambisi dan Kenyataan dirinya, remaja bisa mulai mencari-cari jalur apa saja yang bisa ia tempuh untuk bisa meraih ambisi-ambisinya. Yang perlu disadari adalah bahwa terkadang tidak mungkin mencapai suatu ambisi dengan hanya mengandalkan usaha satu langkah saja. Untuk ambisi menjadi akuntan terkenal misalnya, tentu pertama-tama harus lulus ujian nasional dulu, lalu masuk jurusan akuntansi di perguruan tinggi berkualitas, mendapat IPK minimal 3,00, dan diterima kerja di Kantor Akuntan Publik ternama. Masing-masing lagkah Usaha ini dapat dijadikan sebagai sub-Ambisi demi tercapainya Ambisi utama menjadi akuntan terkenal.

Tidak sulit bukan? Yang menjadi tantangan memang bukanlah membuat remaja menyusun penetapan A-K-U-nya, melainkan menyadarkan bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas masa depannya sendiri. Oleh karena itu hendaknya mereka mau meluangkan waktu untuk sedikit melalui proses mandiri merancang keberhasilannya.

Nah, nampaknya kita dan para orang tua pun perlu merancang penetapan Ambisi kita yang baru, yaitu membuat generasi masa kini bukan menjadi generasi instan, melainkan menjadikannya generasi brilian yang pintar memaknai kehidupan. Bahwa bukan pencapaian-pencapaian saja yang penting, melainkan juga seberapa besar proses usaha yang dilalui untuk bisa meraih pencapaian tersebut.

Selasa, 11 Juni 2013

Bersahabatlah dengan PERBEDAAN

beni badaruzaman
Memiliki tiga anak, membuatku merasa sudah cukup mengenal karakter anak-anakku. Hanya saja, akhir-akhir ini kegelisahanku muncul setelah si bungsu duduk di kelas 3 SD dimana ia mulai memiliki jadwal belajar rutin dan berhadapan dengan materi pelajaran yang lebih kompleks. Satu hal yang membuat aku bingung dan khawatir adalah cara belajarnya. Kedua kakaknya biasa belajar dengan cara yang kuajarkan, yaitu duduk di ruang belajar, membaca materi, dihafalkan dan melakukan tanya jawab denganku. Berhadapan dengan si bungsu sungguh membuatku pusing, karena ia senang sekali belajar di kamarnya sambil memutar musik dengan volume keras..

(NS - Ibu Rumah Tangga)


Hmm...ternyata, memiliki tiga orang anak tidak berarti membuat kita telah mengenal berbagai karakter manusia. Setelah memiliki dua anak, maka dugaan yang sering terjadi adalah bahwa si anak ketiga akan memiliki karakter seperti salah satu kakaknya. Ternyata yang terjadi tidak seperti itu. Si bungsu justru memiliki karakter yang berbeda lagi. Contohnya di sini, ia memiliki gaya belajar yang  berbeda dibanding kedua kakaknya. Inilah yang umum disebut perbedaan individual, dimana individu yang satu pasti memiliki perbedaan dibanding individu lain, sehingga membuat masing-masing individu adalah unik.

Sebenarnya kita memiliki kesadaran bahwa kita memiliki perbedaan satu sama lain. Meskipun demikian, biasanya kesadaran mengenai perbedaan ini baru timbul setelah kita membanding-bandingkan antara satu individu dengan individu lain.

Secara umum, memang ada persamaan yang harus dialami oleh setiap anak. Misalnya pada tahap tertentu di usia tertentu anak mulai bisa tertawa setelah melihat orang lain tertawa, atau di usia tertentu anak harus mulai bisa merangkak, berjalan dan sebagainya. Sadarkah anda, bahwa para ahli perkembangan anak tidak pernah mengatakan “tepat pada usia satu tahun dua bulan tiga hari, seorang anak harus sudah bisa berdiri sendiri” Kebanyakan referensi perkembangan anak juga pasti hanya mencantumkan angka “14 bulan” sebagai patokan usia dimana anak biasanya sudah bisa berdiri sendiri. Melalui hal ini kita dapat melihat bahwa memang tersedia ruang untuk perbedaan individual dalam perkembangan anak.

Mengenai perbedaan individual itu sendiri, terdapat banyak sekali faktor yang dapat membuat seorang individu menjadi berbeda dari individu yang lain. Berawal dari masa kehamilan, bayi dalam kandungan tentu sudah terbentuk dari susunan genetik yang berbeda. Selain itu, kondisi emosi dan fisik ibu saat hamil juga mempengaruhi temperamen anak yang dikandungnya. Misalnya, saat mengandung si A, ibu merasa bahagia karena mengandung anak pertama, maka bayi A akan terlahir dengan temperamen tertentu. Lalu jika saat ibu mengandung si B, ia berada pada kondisi kurang nyaman (misalnya karena baru pindah pekerjaan baru), maka si B akan terlahir dengan temperamen yang berbeda pula.

Setelah lahir, si A diasuh oleh ayah dan ibu dibantu nenek yang sedang bahagia memiliki cucu pertama. Sedangkan si B kemudian hari diasuh oleh ayah, ibu dan dibantu oleh baby sitter. Dua pola asuh yang berbeda, tentu memberi dampak yang berbeda dan akhirnya menghasilkan pribadi yang berbeda pula.

Memasuki masa sekolah, perbedaan budaya sekolah, metode pengajaran, lingkungan pergaulan, dan lain-lain juga akan berkontribusi pada pembentukan kepribadian masing-masing anak kita. Belum lagi dengan memperhitungkan hubungan dengan orang tua, minat, bakat, dan masih banyak lagi. Bayangkan betapa banyak sumber yang dapat membentuk perbedaan individu, dan hal-hal tersebut ada di setiap tahap kehidupan.

Pada kesempatan ini, saya mengajak pembaca website StifinBanten.com untuk berpikir sederhana. Kali ini tidak perlu melihat perbedaan individual dari sudut pandang teori manapun atau dari pendekatan ilmiah tertentu. Melihat dari kehidupan sehari-hari saja sudah dapat membuka wawasan kita bahwa perbedaan individual ada dimana-mana.

Seringkali kita menengar bahwa anak yang dilahirkan kembarpun pasti akan memiliki perbedaan, dan dengan melihat banyaknya faktor pembentuk perbedaan individual, maka dapat dikatakan bahwa perbedaan individual tidak dapat kita hindari. Karena tidak dapat kita hindari, maka saya mengajak para orang tua untuk tidak mempermasalahkan adanya perbedaan di antara anak-anak anda. Sebagai orang tua, hal yang perlu kita sadari adalah bahwa terus menerus membandingkan anak dengan saudaranya atau dengan orang lain dapat membuat anak kita merasa tidak nyaman. Hal ini karena anak akan merasakan adanya tuntutan-tuntutan tertentu terhadap dirinya.

Oleh karena itu, berhentilah merisaukan perbedaan anak anda. Dengan menjadi berbeda, sebenarnya anda dapat berbangga hati karena ini berarti anak anda cukup cerdas dan kreatif untuk  dapat mempelajari pola yang lain dibandingkan saudara-saudaranya. Sudut pandang baru yang perlu dibentuk adalah perbedaan justru merupakan hal positif. Karena dengan perbedaan, anak-anak kita dapat saling mengisi kelebihan dan kekurangan diantara mereka. Selain itu, perbedaanlah yang menjadikan kehidupan ini semakin lengkap, bervariasi, dan menarik. Bayangkan jika anda memiliki 3 anak dengan karakter yang persis sama. Jangan-jangan anda justru akan bosan mengurus anak-anak anda?

Maka marilah, mulai dari sekarang, bersahabatlah dengan PERBEDAAN!